Pada tahun 1959, Presiden Sukarno menetapkan tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional. Penetapan ini dilakukan untuk mengenang jasa para guru yang telah ikut berjuang dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 182/1964 tentang Hari Guru. Dalam keputusan tersebut, dinyatakan bahwa Hari Guru Nasional diperingati setiap tanggal 25 November.
Sampai saat ini, Hari Guru Nasional masih diperingati setiap tanggal 25 November di Indonesia. Peringatan Hari Guru Nasional biasanya diisi dengan berbagai kegiatan, seperti upacara bendera, seminar, dan lomba-lomba.
Makna Hari Guru Nasional
Hari Guru Nasional memiliki makna yang penting bagi bangsa Indonesia. Hari ini merupakan momentum untuk menghargai jasa para guru yang telah mendidik dan membimbing generasi penerus bangsa.
Guru memiliki peran yang sangat penting dalam pembangunan bangsa. Gurulah yang bertanggung jawab untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita menghormati jasa para guru.
Ada banyak cara untuk menghormati guru. Berikut ini adalah beberapa cara yang dapat kita lakukan:
- Bersikap sopan dan santun kepada guru.
Ini adalah hal yang paling dasar yang dapat kita lakukan untuk menghormati guru. Kita harus bersikap sopan dan santun kepada guru, baik di dalam maupun di luar kelas.
- Mendengarkan nasihat dan pelajaran dari guru dengan penuh perhatian.
Guru adalah orang yang lebih berpengalaman dan lebih tahu daripada kita. Oleh karena itu, kita harus mendengarkan nasihat dan pelajaran dari guru dengan penuh perhatian.
- Mengerjakan tugas yang diberikan guru dengan sebaik-baiknya.
Guru memberikan tugas kepada kita untuk membantu kita belajar dan mengembangkan diri. Oleh karena itu, kita harus mengerjakan tugas yang diberikan guru dengan sebaik-baiknya.
- Menjaga nama baik guru dan sekolah.
Guru dan sekolah adalah tempat kita belajar dan berkembang. Oleh karena itu, kita harus menjaga nama baik guru dan sekolah.
Selamat Hari Guru Nasional! Engkaulah pelita, penerang dalam gulita, jasamu tiada tara.
–FOTO: Guru mengajar di sekolah kolonial pada 1900-an. (geheugen.delpher.nl).





