Asia Selatan kembali bergolak. India mengguncang wilayah Pakistan dan Kashmir Pakistan lewat serangan udara dramatis bertajuk Operasi Sindoor, Rabu 7 Mei 2025, menandai bentrokan militer paling ganas dalam lebih dari dua dekade antara dua negara bersenjata nuklir.
__________
Pemerintah India menyatakan serangan itu menargetkan sembilan lokasi infrastruktur teroris di provinsi Punjab, termasuk kamp yang diklaim sebagai pusat perekrutan dan pelatihan militan dari kelompok Jaish-e-Mohammed dan Lashkar-e-Taiba.
Kementerian Luar Negeri India menyebut langkah ini sebagai tindakan pencegahan atas potensi serangan teror baru yang sedang disiapkan oleh kelompok berbasis di Pakistan. “Intelijen kami menunjukkan adanya ancaman yang akan segera terjadi, maka diperlukan serangan pendahuluan,” ujar Menteri Luar Negeri Vikram Misri dalam jumpa pers di New Delhi dilansir dari Reuters.
Namun, pihak Pakistan membantah tudingan bahwa lokasi yang diserang adalah kamp militan. Islamabad menyebut enam lokasi yang terkena rudal India adalah wilayah sipil, termasuk sebuah masjid di Muzaffarabad yang menaranya runtuh akibat serangan tersebut. Juru bicara militer Pakistan Letnan Jenderal Ahmed Sharif Chaudhry mengatakan, “Ini adalah tindakan perang yang terang-terangan. Pakistan akan merespons pada waktu dan cara yang kami tentukan sendiri.”
Pakistan mengklaim berhasil menembak jatuh lima jet tempur India, meski klaim ini belum dikonfirmasi oleh pihak India. Sumber pemerintah lokal di Kashmir India melaporkan kepada Reuters bahwa tiga jet jatuh di wilayah Himalaya dan ketiga pilot dirawat di rumah sakit. Belum ada konfirmasi resmi dari Kementerian Pertahanan India.
Sementara itu, tembak-menembak terjadi di sepanjang perbatasan de facto di wilayah Kashmir, menyebabkan sedikitnya 10 warga sipil tewas dan 48 lainnya luka-luka di wilayah India, serta enam korban jiwa di wilayah Pakistan. Gambar-gambar yang beredar menunjukkan kepulan asap, api, dan warga yang panik berlarian, meskipun keaslian rekaman belum bisa diverifikasi secara independen.
Ketegangan ini mengingatkan kembali pada sejarah panjang konflik antara India dan Pakistan, yang telah berperang tiga kali sejak kemerdekaan mereka pada 1947, dua di antaranya mengenai Kashmir—wilayah mayoritas Muslim yang diklaim penuh oleh kedua negara. Serangan lintas perbatasan seperti ini sangat jarang terjadi sejak kesepakatan gencatan senjata tahun 2003, yang terakhir diperbarui pada 2021.
Operasi militer India kali ini diberi nama “Operasi Sindoor,” merujuk pada bubuk merah yang secara simbolik digunakan wanita Hindu yang telah menikah. Serangan tersebut disambut beragam di India. “Pakistan telah menguji kesabaran kita. Sudah sepatutnya kita membalas,” kata Kumar Ravi Shankar, seorang pengacara di Delhi dikutip dari BBC. Tejas Patel, warga Gujarat, menambahkan, “Fokus kita harus tetap pada pemberantasan terorisme hingga ke akar-akarnya.”
Namun, para analis memperingatkan bahwa eskalasi konflik ini bisa menjadi sangat berbahaya. Presiden AS Donald Trump menyebut pertempuran ini “memalukan” dan berharap ketegangan segera mereda. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio telah berbicara dengan penasihat keamanan nasional dari kedua negara, menyerukan agar saluran komunikasi tetap terbuka. Seruan pengekangan juga datang dari Sekjen PBB Antonio Guterres, serta dari pemerintah China dan Rusia.
Tim pencari fakta dari PBB telah tiba di wilayah Kashmir Pakistan untuk menyelidiki dampak serangan. Sementara itu, Menteri Pertahanan Pakistan mengatakan bahwa semua lokasi yang menjadi sasaran serangan India adalah sipil, menolak klaim bahwa lokasi tersebut adalah kamp teroris. “Klaim India salah total,” tegasnya kepada saluran televisi Geo News.***





