Fadli Zon Menulis Ulang Sejarah Indonesia: Bagian Mana Saja yang Dikoreksi dan Apa Urgensinya?

Ilustrasi. | Samudra Fakta
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon memimpin proyek ambisius: penulisan ulang sejarah Indonesia. Apa saja yang bakal ‘disegarkan kembali’, selain narasi Indonesia dijajah selama 350 tahun yang menurut Fadli Zon kurang tepat itu itu?

__________

Proyek penulisan ulang ini dimulai pada Mei 2025. Fadli menargetkan narasi historis yang telah disegarkan kembal itu bisa diluncurkan pada 17 Agustus 2025—bertepatan dengan HUT ke-80 Bangsa Indonesia.

Dia mengeklaim bahwa proyek ini dikerjakan untuk memperkuat identitas nasional dan kebanggaan generasi muda. Dan itu, menurut dia, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045.

Bacaan Lainnya

Proyek ini perlu dikerjakan, kata Fadli, karena buku sejarah resmi—seperti Indonesia Dalam Arus Sejarah (2012) dan Sejarah Nasional Indonesia (1984)—dinilainya sudah tak lagi relevan.

“Kita mau menambahkan, merevisi, dan meluruskan berdasarkan temuan-temuan baru,” kata Fadli, dalam wawancara di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 5 Mei 2025.

Fadli mengeklaim bahwa proyek ini dikerjakan demi menyajikan narasi sejarah yang lebih akurat, membanggakan, dan mendukung kepercayaan diri bangsa—terutama generasi muda, sebagai bagian dari visi Indonesia Emas 2045.

Langkah Menbud Fadli ini didukung oleh Ketua Umum Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI), Agus Mulyana. Agus menyoroti pentingnya menghilangkan stigma bahwa Indonesia adalah “bangsa baru” atau “bangsa yang kalah.”

“Terkadang kita kurang percaya diri dalam segi kesejarahan. Padahal, hasil penelitian menunjukkan masa prasejarah kita jauh lebih tua dibandingkan peradaban Mesir atau Eropa,” kata Agus, dalam sebuah pernyataan pada 14 Desember 2024 di Bandung.

Bila mengacu pada pernyataan Agus, barangkali bisa dikatakan bahwa proyek penulisan ulang sejarah ini juga punya tujuan untuk mengoreksi persepsi global tentang sejarah Indonesia.

Proses dan Pelaku

Proyek ‘rehistorisasi’ ini melibatkan lebih dari 100 sejarawan dan ahli dari berbagai universitas di Indonesia. Mereka semua bertugas menulis dan menyunting buku sejarah baru.

“Kami melibatkan lebih dari 100 sejarawan dari berbagai perguruan tinggi. Yang menulis adalah ahli sejarah, bukan aktivis. Kami pastikan ini berdasarkan fakta dan kajian, bukan opini,” kata Fadli Zon.

MSI, yang merupakan organisasi sejarawan di Indonesia, pun menyatakan siap terlibat. “Kami siap terlibat, ini momentum penting,” ujar Agus.

Bagian Sejarah Mana yang Dikoreksi?

Ada beberapa poin yang menjadi fokus dalam perubahan narasi sejarah ini—kendati secara spesifik masih terbatas, karena proyek masih berlangsung—yaitu:

  • Masa Prasejarah

Menurut Fadli Zon, ada penelitian terbaru yang menunjukkan bahwa peradaban Indonesia lebih tua dari yang diketahui selama ini.

Gua Leang-Leang di Maros, Sulawesi Selatan, misalnya. Awalnya gua itu diperkirakan berusia 5.000 tahun. Namun, kata Fadli, menurut hasil penelitian arkeologi terbaru, gua itu diperkirakan berusia 40.000-52.000 tahun.

“Ini harus ditambahkan. Peradaban kita jauh lebih tua dari yang kita kira,” kata Fadli.

Fadli menegaskan bahwa pengetahuan ini perlu disebarluaskan agar dunia tahu bahwa Indonesia memiliki peradaban kuno yang setara—bahkan lebih tua—dibandingkan peradaban Eropa atau Mesir.

  • Masa Kolonial

Narasi umum yang menyebut Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun juga bakal dikoreksi. Agus Mulyana dari MSI mengemukakan penjelasannya kenapa bagian ini perlu dikoreksi.

“Aceh, misalnya, belum ditaklukkan hingga 1920-an, bahkan 1930-an. Ini perlu interpretasi ulang, agar kita tidak dipandang sebagai bangsa yang kalah” kata dia.

Koreksi ini, menurut Agus, untuk memperjelas bahwa kekuasaan kolonial tidak merata di seluruh wilayah.

  • Pemerintahan Modern:

Fadli Zon juga mengatakan bahwa sejarah versi baru nanti bakal diperluas hingga mencakup era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Joko Widodo (Jokowi), dan bahkan periode pemerintahan Prabowo Subianto.

“Periode terakhir di buku sejarah saat ini berhenti sebelum era SBY. Tentu ini (era setelah SBY) akan ditambahkan,” jelasnya.

Bagian ini perlu dimasukkan karena, menurut Fadli, sejarah kontemporer yang relevan dengan kondisi saat ini juga perlu diketahui dan dipahami oleh publik.


— Tabel Babak-babak Sejarah yang Disegarkan Kembali—

Periode

Perubahan Utama

Alasan

Masa Prasejarah

Usia peradaban diperbarui, misalnya Gua Leang-Leang 40.000-52.000 tahun

Temuan arkeologi baru, peradaban lebih tua

Masa Kolonial

Koreksi narasi 350 tahun dijajah, kontrol Belanda tidak merata (misalnya Aceh)

Akurasi sejarah, hindari stigma “bangsa kalah”

Pemerintahan Modern

Tambah era SBY, Jokowi, dan Prabowo, sebelumnya berhenti sebelum SBY

Perluas sejarah kontemporer, relevansi masa kini

Periodisasi Sejarah

Perluas dari prasejarah hingga era terkini, tambah jilid baru

Lengkapi narasi sejarah, dukung pendidikan


Implikasi dan Prospek

Proyek ini bukan sekadar pembaruan buku pelajaran, tetapi bagian dari visi pemerintahan Prabowo-Gibran untuk memperkuat identitas nasional. Dengan melibatkan temuan arkeologi terbaru, seperti usia situs prasejarah, Indonesia berupaya menunjukkan sejarahnya yang kaya dan panjang, layak mendapat tempat di panggung global.

“Kalau tidak ada yang baru, ya, kita teruskan. Tapi, kalau ada temuan baru, kita update. Ini soal kebanggaan kita sebagai bangsa,” pungkas Fadli.

Proyek ini memang diharapkan menjadi tonggak baru dalam pendidikan sejarah Indonesia, namun keberhasilannya akan bergantung pada bagaimana narasi disampaikan dan diterima oleh masyarakat.***

Pos terkait