Pengamat dinamika NU Muhammad Izzul Haq menyoroti ketidakpastian tuan rumah Muktamar ke-35 yang dijadwalkan pada 1-5 Agustus 2026. Ia menilai forum Munas-Konbes 2026 gagal memutuskan lokasi, hanya menghasilkan rekomendasi survei yang dianggap tidak efisien.
Pengamat dinamika NU, Muhammad Izzul Haq, mengkritik tajam lambatnya penetapan lokasi Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama. Menurutnya, forum sekelas Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar seharusnya sudah langsung menyepakati daerah penyelenggara.
“Kenapa sampai hari terakhir Konbes rekomendasinya malah survei lokasi, bukannya memilih satu lokasi? Ini jadinya gak efisien, mengulur-ulur waktu kan?,” ujar Gus Izzul, sapaan akrabnya, kepada Samudrafakta, Selasa (23/6/2026).
Gus Izzul menyayangkan sikap Komisi Organisasi yang gagal memunculkan satu nama daerah. Meski waktu pelaksanaan Muktamar sudah dipastikan pada 1-5 Agustus 2026, PBNU belum menunjuk tuan rumah hingga forum tertinggi kedua itu selesai.
Ia mengingatkan bahwa penentuan tuan rumah Muktamar 2021 di Lampung dilakukan melalui Konbes. “Ya semoga ini bukan setingan sehingga tuan rumah muktamar berikutnya dibuat mengambang, padahal Muktamar 35 tinggal berapa minggu lagi,” kritik mantan Ketua PCINU AS-Kanada itu.
PBNU Siapkan Survei Lima Daerah
Menanggapi hal itu, Sekretaris Steering Committee Munas-Konbes NU 2026, Prof. Mohammad Nuh, menjelaskan bahwa PBNU harus melakukan penilaian mendalam terlebih dahulu sebelum menunjuk tuan rumah.
Lima daerah telah resmi mengajukan diri, yaitu Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Sumatera Barat. “Kami akan segera membentuk tim yang akan melakukan review dari tempat-tempat tadi itu,” ujar Nuh di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, Senin (22/6/2026).
Empat kriteria utama digunakan untuk menentukan kelayakan: sarana dan prasarana, keamanan, kesiapan finansial, dan pertimbangan spiritual. Nuh menegaskan aspek keamanan menjadi prioritas agar hanya peserta yang memiliki eligibilitas yang bisa masuk ruang muktamar.





