Serangan udara Israel menghantam Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, Gaza Selatan, Senin, 25 Agustus 2025, menewaskan sedikitnya 20 orang dan melukai puluhan lainnya. Korban tewas termasuk lima jurnalis internasional, salah satunya Mariam Dagga, 33 tahun, pekerja lepas Associated Press.
______________
Serangan ini menjadi salah satu yang paling mematikan dari rangkaian serangan Israel terhadap rumah sakit dan jurnalis selama perang 22 bulan yang dipicu serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Serangan terjadi ketika Israel berencana memperluas serangan ke wilayah padat penduduk.
Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut serangan terhadap Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, Gaza Selatan, sebagai “kecelakaan tragis” dan menyatakan militer sedang menyelidikinya.
Jurnalis Termasuk Korban
Serangan pertama menghantam lantai atas yang menampung ruang operasi dan tempat tinggal dokter, menewaskan sedikitnya dua orang, menurut Zaher Al-Waheidi, kepala departemen catatan Kementerian Kesehatan Gaza. Serangan kedua menghantam tangga luar saat tim penyelamat dan jurnalis bergegas ke lokasi serangan pertama, menewaskan 18 orang lainnya dan melukai sekitar 80 orang, termasuk di halaman rumah sakit.
Di antara korban tewas adalah Mariam Dagga, 33 tahun, jurnalis visual yang pernah bekerja untuk The Associated Press. Dagga rutin meliput berbagai media dari rumah sakit, termasuk laporan tentang dokter yang berjuang menyelamatkan anak-anak dari kelaparan.
Empat jurnalis lain yang tewas berasal dari Al Jazeera, Reuters, dan Middle East Eye. Reuters mengatakan sedang menyiarkan video langsung dari rumah sakit ketika siaran tiba-tiba mati, dan jurnalis yang merekam video tersebut tewas dalam serangan pertama.
Rekaman video dari seberang jalan oleh saluran pan-Arab Al Ghad menunjukkan orang-orang menaiki tangga luar setelah serangan pertama, melewati dinding yang bongkahan terkelupas, kemudian terdengar ledakan serangan kedua disertai kepulan asap tebal dan tumpukan puing.
Israel: Sedang Diselidiki
Media Israel melaporkan pasukan menembakkan dua peluru artileri ke rumah sakit, menargetkan dugaan kamera pengawas Hamas di atap. Brigadir Jenderal Effie Defrin, juru bicara militer, menegaskan tentara tidak menargetkan warga sipil dan telah meluncurkan penyelidikan internal. “Hamas bersembunyi di antara warga sipil,” ujarnya, tanpa menyebut pasti ada militan saat serangan.
Netanyahu menyatakan, “Israel sangat menyesalkan kecelakaan tragis yang terjadi hari ini di Rumah Sakit Nasser di Gaza. Israel menghargai kerja keras para jurnalis, staf medis, dan semua warga sipil.”
PBB, Inggris, Prancis, dan negara lain mengutuk serangan ini. Presiden AS Donald Trump awalnya mengatakan tidak mengetahui insiden tersebut dan menambahkan, “Saya tidak senang. Saya tidak ingin melihatnya.” Trump kemudian menyebut kemungkinan akan ada “akhir yang konklusif” di Gaza dalam beberapa minggu mendatang, tanpa menjelaskan lebih lanjut.
Kekacauan di Rumah Sakit
Seorang dokter Inggris yang bekerja di lantai yang terkena serangan menggambarkan kekacauan: “Benar-benar pemandangan yang kacau, tak percaya, dan menakutkan.” Serangan kedua terjadi sebelum evakuasi korban serangan pertama. Pasien-pasien yang terpasang infus tergeletak di koridor dalam suhu panas, meninggalkan jejak darah saat dipindahkan.
Rumah Sakit Nasser sebelumnya bertahan dari serangan dan pemboman selama perang, meski kekurangan pasokan dan staf kritis. Serangan Juni lalu menewaskan tiga orang, sedangkan serangan Maret menewaskan seorang pejabat Hamas dan remaja 16 tahun.
Rumah Sakit Al-Awda juga melaporkan ada enam pencari bantuan tewas akibat tembakan Israel saat menuju titik distribusi di Gaza Tengah dan 15 lainnya luka-luka. Serangan terbaru ini terjadi di Koridor Netzarim, zona militer yang sebelumnya sempat diserbu oleh penjarah dan kerumunan putus asa.
GHF membantah penembakan di dekat lokasi mereka. Militer Israel mengaku tidak mengetahui adanya korban jiwa akibat tembakan di daerah tersebut.
Perang Mematikan Bagi Jurnalis
Perang di Gaza tercatat sebagai salah satu yang paling berdarah bagi pekerja media, dengan 189 jurnalis Palestina tewas oleh tembakan Israel. Lebih dari 1.500 tenaga kesehatan juga tewas, menurut PBB.
Sara Qudah, direktur regional Komite Perlindungan Jurnalis, menegaskan, “Pembunuhan jurnalis di Gaza oleh Israel terus berlanjut sementara dunia menyaksikan dan gagal bertindak tegas.” Asosiasi Pers Asing meminta Israel menghentikan praktik menargetkan jurnalis.
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat sedikitnya 62.686 warga Palestina tewas sejak perang dimulai, setengahnya perempuan dan anak-anak. Perang ini dipicu serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menculik 251 warga. Sebagian besar sandera telah dibebaskan, namun 50 orang masih berada di Gaza, sekitar 20 diyakini masih hidup.***





