Otoritas Arab Saudi mencegat dua rudal Houthi yang memicu peringatan bahaya darurat di empat provinsi, termasuk Mekkah dan Jeddah, menyusul eskalasi konflik Yaman.
Koalisi militer pimpinan Arab Saudi mengklaim berhasil mencegat dua rudal yang diluncurkan kelompok Houthi dari Yaman menuju Yanbu dan Taif pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Insiden ini diiringi peringatan bahaya bagi warga di empat wilayah barat kerajaan, termasuk kota suci Mekkah dan Jeddah.
“Segera menuju ke tempat aman terdekat,” tulis instruksi peringatan dari otoritas pertahanan sipil Arab Saudi, sebelum akhirnya dicabut beberapa menit kemudian.
Selain itu, otoritas mengeluarkan peringatan hukum agar warga tidak menyebarkan gambar atau informasi terkait operasi pencegatan rudal dan pesawat nirawak. Yanbu menjadi titik strategis karena merupakan pusat ekspor minyak utama Arab Saudi di pesisir Laut Merah.
Fasilitas di Yanbu tersebut memungkinkan kerajaan mengalihkan sebagian besar pengiriman minyak mentah tanpa harus melewati Selat Hormuz. Jalur maritim strategis itu saat ini dikabarkan sedang mengalami blokade oleh Iran.
Eskalasi Serangan Houthi
Ketegangan ini terjadi di tengah meningkatnya intensitas serangan Houthi terhadap infrastruktur militer dan sipil Arab Saudi. Kelompok yang didukung Iran tersebut sebelumnya secara beruntun menargetkan sejumlah fasilitas minyak dan bandara.
Insiden paling mematikan melanda Bandar Udara Internasional King Khalid di Riyadh pada awal Oktober 2026. Serangan yang melibatkan pesawat nirawak tersebut memakan belasan korban jiwa dan melukai ratusan orang lainnya.
Laporan Otoritas Umum Penerbangan Sipil Arab Saudi mencatat 12 orang tewas dan 309 terluka dalam insiden itu. Meski demikian, sejumlah sumber awal melaporkan korban tewas mencapai 13 orang. Hingga berita ini ditulis, otoritas terkait belum memberikan tanggapan mengenai perbedaan rincian korban tersebut.
Dampak Keamanan di Riyadh
Merespons rentetan serangan, langkah pengamanan diperketat secara signifikan di berbagai sektor esensial. Otoritas memperpanjang masa pembelajaran jarak jauh bagi seluruh murid, tenaga pengajar, dan staf administratif di Riyadh serta Kegubernuran Diriyah hingga 22 Oktober.
Di sektor perkantoran swasta, pengelola Kingdom Center di Riyadh mewajibkan karyawan gedung 99 lantai tersebut untuk bekerja dari rumah. Gedung pencakar langit ini menampung berbagai lembaga keuangan internasional, termasuk Dana Moneter Internasional (IMF) dan Merrill Lynch.
Sebelumnya, sistem pertahanan udara Arab Saudi juga disibukkan dengan ancaman di wilayah udara lainnya. Dua pesawat nirawak dicegat di atas Riyadh dan satu lainnya ditembak jatuh di Provinsi Timur, sementara dua rudal balistik dihalau di wilayah selatan.
Operasi Balasan Koalisi
Konflik Yaman kembali bergejolak sejak Juli 2026 setelah sempat mereda menyusul kesepakatan gencatan senjata pada tahun 2022. Sepanjang Oktober ini, koalisi Arab Saudi melancarkan serangan udara untuk mendukung pasukan pemerintah Yaman.
Operasi udara tersebut secara spesifik menargetkan fasilitas dan posisi militer Houthi demi merebut kembali wilayah-wilayah yang dikuasai kelompok itu. Sebagai bentuk perlawanan, Houthi mendeklarasikan blokade terhadap kapal-kapal Arab Saudi di perairan Laut Merah.
“Kegiatan belajar dilakukan melalui platform Madrasati dan layanan pendidikan daring resmi lainnya,” tulis Kementerian Pendidikan Arab Saudi melalui platform X, mengonfirmasi penyesuaian aktivitas sipil di tengah eskalasi keamanan tersebut.***





