Nama yang Berubah, Ajaran yang Bertahan
Seiring wafatnya Abu Yazid pada 874 M, Shiddiqiyyah mengalami perubahan penamaan. Ulama Irbil Syekh Amin Al-Qurdi mencatat dalam kitab Tanwīrul Qulūb fī Mu‘āmalati ‘Ulūmil Ghuyūb bahwa perubahan nama thoriqoh mengikuti nama mursyid di setiap zaman.
Nama Shiddiqiyyah kemudian bertransformasi menjadi Thoifuriyyah, Khuwajikaniyyah, hingga Naqsyabandiyyah. Perubahan administratif berabad-abad inilah yang membuat sebutan Shiddiqiyyah perlahan menghilang dari ruang publik, meski ajarannya tetap hidup.
Titik Balik dari Ploso, Jombang
Kebangkitan nama Shiddiqiyyah terjadi di Nusantara, tepatnya di Ploso, Jombang, Jawa Timur. Syekh Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi mulai mengajarkan kembali ajaran ini sejak 1960 dengan pendekatan bertahap.

Perjalanan itu melalui empat fase: pengajaran Ilmu Haq Layar Tujuh Pati, Ilmu Haq Kholwatiyyah, Thoriqoh Kholwatiyyah Shiddiqiyyah, hingga resmi berdiri sebagai Thoriqoh Shiddiqiyyah pada 4 April 1972.
Di tangan Syekh Mukhtar, Shiddiqiyyah ditegaskan sebagai ajaran tasawuf yang tidak berhenti pada ritual, tetapi hadir dalam kehidupan sosial.
Spiritualitas yang Menyentuh Kehidupan
Prinsip bahwa thoriqoh harus hidup di tengah masyarakat melahirkan berbagai lembaga pendidikan, sosial, dan kebangsaan. Dari Yayasan Pendidikan Shiddiqiyyah hingga Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia, seluruh gerakan ini berpijak pada dua pilar: keimanan spiritual dan kemanusiaan sosial.
Kini, Shiddiqiyyah berkembang lintas wilayah dan negara. Ajaran ini menegaskan bahwa iman tidak menjauhkan manusia dari realitas bangsanya, justru menguatkan peran sosial dan kebangsaan.
Shiddiqiyyah menempatkan kejujuran iman sebagai fondasi peradaban—nilai yang lahir dari Isro’ Mi’roj dan terus diuji oleh zaman. ***






1 Komentar