Di Antara Statistik dan Kehidupan Nyata
Paradoks ini bukan soal manipulasi data, melainkan keterbatasannya. Statistik bekerja dengan rata-rata; kehidupan bergerak dengan ketimpangan. Angka bisa jujur secara metodologi, tetapi belum tentu utuh dalam menangkap pengalaman manusia.
Shiddiq, dalam pengertian terdalamnya, menuntut lebih dari sekadar kepatuhan administratif. Ia menuntut keberanian untuk menengok ruang-ruang yang tidak terwakili oleh grafik: rasa tidak aman ekonomi, rapuhnya pendapatan harian, dan kecemasan kolektif yang tumbuh diam-diam di tengah klaim keberhasilan.
Kejujuran sebagai Etika Kebijakan
Data sosial-ekonomi bukan benda netral. Ia menentukan arah kebijakan, alokasi anggaran, hingga cara negara memotret dirinya sendiri. Ketika statistik hanya digunakan untuk menegaskan citra keberhasilan, shiddiq kehilangan maknanya. Kejujuran sejati justru hadir saat angka diperlakukan sebagai alat koreksi—bukan sekadar legitimasi.
Hari Shiddiqiyyah mengingatkan bahwa kebenaran tidak berhenti pada “tidak salah secara teknis”. Ia menuntut kepekaan moral: mengakui keterbatasan data, membuka ruang bagi suara yang tak terhitung, dan memastikan bahwa angka bekerja untuk memperbaiki kehidupan nyata.
Narasi Publik dan Tanggung Jawab Moral
Di tengah tekanan biaya hidup, ketimpangan regional, dan tuntutan pertumbuhan inklusif, publik tidak hanya membutuhkan data yang benar, tetapi narasi yang jujur. Narasi yang tidak menutup-nutupi luka di balik statistik, sekaligus tidak menafikan capaian yang nyata.
Shiddiq di era angka berarti kesediaan untuk berkata: kemajuan ada, tetapi belum merata; kemiskinan turun, tetapi kerentanan masih luas. Kejujuran semacam ini mungkin tidak selalu nyaman, namun justru di sanalah kepercayaan publik bertumbuh.





