Kepergian Meriyati Roeslani Hoegeng pada Selasa, 3 Februari 2026, bukan sekadar kabar duka tentang wafatnya seorang istri purnawirawan jenderal. Wafat di usia 100 tahun, Eyang Meri meninggalkan sesuatu yang jauh lebih langka dari usia panjang: teladan etika yang hari ini kian jarang ditemukan, bahkan nyaris terlupakan.
Oleh: Edi Purwanto | Redaksi Samudrafakta
Meriyati—yang akrab disapa Merry Hoegeng—adalah pendamping hidup Hoegeng Iman Santoso, sosok yang dikenang sebagai simbol kejujuran di tubuh kepolisian. Namun sejarah sering kali hanya mencatat sang jenderal, lupa bahwa integritas tak pernah tumbuh sendirian. Ia dijaga, dirawat, dan dipertahankan dalam ruang paling sunyi: keluarga.
Sepanjang karier Hoegeng, Eyang Meri memilih berdiri di belakang, bukan untuk menikmati bayang-bayang kekuasaan, melainkan untuk memastikan batas etika tak pernah dilanggar. Ia hidup di tengah godaan jabatan, ketika gratifikasi kerap menyasar bukan hanya pejabat, tetapi juga keluarganya. Tuduhan cincin berlian di Medan pada akhir 1950-an adalah salah satu ujian paling telanjang: sebuah fitnah yang sengaja diarahkan ke ranah domestik untuk meruntuhkan integritas publik.
Respons keluarga Hoegeng terhadap tudingan itu mencerminkan etika yang nyaris asing di zaman kini: terbuka, tegas, tanpa kompromi. Tak ada upaya menutupi, apalagi memelintir kebenaran. Nama baik dijaga bukan dengan kuasa, melainkan dengan kejujuran.
Keteladanan itu berlanjut dalam keputusan-keputusan kecil yang justru menentukan. Saat Hoegeng diangkat menjadi Kepala Jawatan Imigrasi, Meriyati menutup usaha toko bunga miliknya. Bukan karena dilarang hukum, melainkan karena kesadaran moral: jarak dari konflik kepentingan harus dijaga, bahkan jika itu berarti kehilangan sumber penghasilan. Ia juga tak pernah menduduki jabatan struktural Bhayangkari, karena bagi Hoegeng—dan diterima sepenuhnya oleh Meriyati—jabatan publik tidak otomatis memberi hak istimewa bagi keluarga.
Selepas Hoegeng pensiun sebagai Kapolri pada 1971, kehidupan sederhana menjadi pilihan sadar, bukan keterpaksaan yang diratapi. Dengan uang pensiun yang sempat amat kecil, pasangan ini melukis, berkesenian, dan mengisi dialog radio. Tak ada kemarahan pada negara, tak ada nostalgia kekuasaan. Yang ada hanyalah kesetiaan pada hidup bersahaja.
Di tengah zaman ketika kekuasaan kerap merembes ke ruang keluarga—menjadi proyek, privilese, bahkan dinasti—kisah Eyang Meri terasa seperti cermin yang memantulkan wajah kita hari ini. Etika ternyata bukan hanya urusan regulasi dan pidato moral, melainkan praktik sehari-hari yang sering kali dimulai dari rumah.
Kepergian Meriyati Roeslani Hoegeng menutup satu bab penting dalam sejarah keteladanan bangsa. Ia tak meninggalkan warisan materi, apalagi jaringan kuasa. Yang tertinggal justru pengingat sunyi: bahwa integritas pejabat publik sering kali ditentukan oleh mereka yang memilih untuk tidak ikut berkuasa.***





