SiPongi mendeteksi 18.657 titik panas dalam 24 jam. Kalimantan Tengah menyumbang lebih dari separuh, sementara kasus gangguan pernapasan melampaui 333 ribu.
Jumlah titik panas karhutla di Indonesia turun tajam pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Namun, penurunan data satelit belum serta-merta mengakhiri paparan asap dan dampak kesehatan masyarakat.
Data SiPongi Kementerian Kehutanan yang diakses pukul 11.52 WIB mendeteksi 18.657 titik panas dalam 24 jam. Jumlah tersebut berkurang 13.236 titik dari catatan sehari sebelumnya yang mencapai 31.893.
Secara persentase, penurunannya mencapai sekitar 41,5 persen.
Dari seluruh titik yang terdeteksi, sebanyak 1.264 memiliki tingkat kepercayaan tinggi. Sebanyak 16.618 masuk kategori sedang dan 775 lainnya berkategori rendah.
Kalimantan Tengah Menyumbang 56 Persen
Kalimantan Tengah tetap menjadi wilayah dengan deteksi tertinggi. Provinsi tersebut mencatat 10.448 titik panas atau sekitar 56 persen dari total nasional.
Sumatra Selatan berada di urutan kedua dengan 1.879 titik. Kalimantan Barat menyusul dengan 1.660 titik, kemudian Papua Selatan 852 dan Kalimantan Selatan 529 titik.
Data tersebut berasal dari pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA. Titik panas menunjukkan lokasi dengan suhu permukaan lebih tinggi daripada wilayah di sekitarnya.
Karena itu, satu titik panas tidak selalu mewakili satu kebakaran. Perubahan jumlah titik juga dapat dipengaruhi tutupan awan, waktu pembacaan satelit, dan tingkat kepercayaan data.
Penurunan dalam satu hari belum cukup untuk menyimpulkan luas kebakaran maupun emisi telah berkurang dengan persentase yang sama.
Lebih dari 333 Ribu Kasus Gangguan Pernapasan
Di tengah penurunan deteksi satelit, beban kesehatan terus terakumulasi. Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 333.470 kasus gangguan pernapasan akut di tujuh provinsi terdampak sejak pertengahan Agustus.
Angka itu menggambarkan jumlah kasus sepanjang periode paparan. Data tersebut tidak menunjukkan seluruh pasien masih dirawat ataupun seluruh kasus disebabkan langsung oleh karhutla.
Asap juga memicu demonstrasi mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil. Lebih dari 500 orang berkumpul di depan Kantor Gubernur Kalimantan Tengah di Palangka Raya pada Jumat, 23 Oktober.
Para demonstran meminta pemerintah memperkuat penanganan dan menetapkan karhutla sebagai bencana nasional. Aksi serupa dilaporkan berlangsung di lebih dari enam kota.
Pemerintah hingga kini mempertahankan penanganan melalui status di tingkat daerah. Alasannya, kemampuan nasional dan daerah dinilai masih memadai untuk menjalankan operasi pemadaman.
Penurunan Titik Panas Perlu Diuji
Perbaikan data satelit perlu dibandingkan dengan indikator lain, terutama konsentrasi PM2.5, angka kunjungan pasien, luas lahan terbakar, curah hujan, dan kebakaran berulang.
Koordinat titik panas juga perlu dipadankan dengan peta konsesi. Langkah tersebut dapat menunjukkan apakah deteksi berulang terkonsentrasi di wilayah perusahaan, lahan masyarakat, kawasan gambut, atau hutan negara.
Tanpa perbandingan itu, penurunan 41,5 persen berisiko menciptakan kesan bahwa krisis telah mereda. Padahal, lebih dari 10 ribu titik masih terdeteksi di Kalimantan Tengah dan dampak kesehatannya terus membesar.***





