“Jangan sampai keputusan pemerintah ini menggeser kita mendorong adik-adik siswa makin tertekan. Sudah stres matematika, suruh belajar pemrograman. Kurikulumnya harus disesuaikan jika ini akan diwajibkan,” kata Ridi kepada wartawan, beberapa waktu lalu.
Ridi menilai Indonesia perlu belajar dari negara-negara yang sudah terlebih dahulu menerapkan pembelajaran coding dan AI di sekolah dasar.
“Indonesia harus belajar implementasi dari negara-negara yang sudah menerapkan, Amerika, Singapura, Finlandia, yang mana tingkat pembelajaran AI dan codingnya untuk menengah dan dasar itu berbeda dengan pembelajaran AI yang ada di perguruan tinggi,” katanya.
Ridi mencontohkan, pembelajaran di tingkat dasar dan menengah, menurut dia, adalah bahasa pemrograman visual. Maka dari itu, teknologi pemrograman yang digunakan untuk pembelajaran anak-anak harus pas.
“Jadi memang berbeda dengan pemrograman yang umumnya pakai kode-kode seperti JavaScript,” katanya.
Ridi juga mengingatkan bahwa target pendidikan dasar menengah berbeda dengan pendidikan tinggi atau vokasi. Target pembelajaran coding di SD, kata dia, bukan untuk membuat software.
Anak TK Harus Siap Berkenalan dengan Matematika
Dalam kesempatan berbeda, Mu’ti juga pernah mengatakan pihaknya telah menyiapkan platform khusus untuk pembelajaran matematika di tingkat pendidikan usia dini atau taman kanak-kanak (TK).
Keputusan untuk mengajarkan matematika di tingkat TK dan SD, kata dia, sudah menjadi keputusan final di Kemendikdasmen yang dia pimpin.





