Nilai TKA SMA-SMK Anjlok, Pakar UNAIR Soroti Distraksi Digital

Nilai TKA turun
Guru Besar Sosiologi Pendidikan Universitas Airlangga (UNAIR) Prof Dr Tuti Budirahayu menilai sejumlah faktor memicu rendahnya capaian tersebut. Foto:Ilustrasi
Nilai TKA SMA dan SMK turun tajam, siswa dinilai tak menganggap ujian menentukan masa depan.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengumumkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA dan SMK yang menunjukkan penurunan capaian belajar siswa secara signifikan.

Pada jenjang SMA, nilai rata-rata Bahasa Indonesia tercatat 57,39, Matematika 37,23, dan Bahasa Inggris 26,71. Sementara itu, siswa SMK mencatat nilai rata-rata Bahasa Indonesia 53,62, Matematika 34,74, dan Bahasa Inggris 22,55.

Guru Besar Sosiologi Pendidikan Universitas Airlangga, Tuti Budirahayu, menilai rendahnya capaian tersebut dipengaruhi persepsi siswa terhadap posisi TKA dalam sistem pendidikan.

TKA Dinilai Tak Menentukan Masa Depan

Menurut Prof Tuti, banyak siswa tidak memandang TKA sebagai ujian yang menentukan. Posisi TKA dinilai berbeda dengan Ujian Nasional (UN) atau Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) yang selama ini berfungsi sebagai alat seleksi.

Bacaan Lainnya

“Dua jenis ujian tersebut dikenal sangat efektif membuat siswa belajar dengan sungguh-sungguh dan menjadi alat seleksi yang cukup baik untuk menyaring siswa berprestasi,” ujar Tuti, dikutip Sabtu (10/1/2026).

Ia menambahkan, tekanan tinggi pada UN dan SNBP bahkan pernah mendorong sebagian siswa menempuh cara-cara curang demi lolos seleksi, meski hal itu mencerminkan persoalan moral dan etika.

Distraksi Digital Melemahkan Daya Kritis

Selain faktor struktural ujian, Prof Tuti menyoroti kuatnya pengaruh era digital terhadap perilaku belajar siswa. Paparan gawai dan media sosial disebut membentuk gaya hidup instan dan persepsi keliru tentang kesuksesan.

“Siswa SMA saat ini mengalami distraksi digital melalui paparan gawai, baik media sosial seperti IG dan TikTok maupun game, yang melemahkan daya kritis, konsentrasi jangka panjang, serta ketekunan membaca dan berpikir analitis,” kata dosen FISIP UNAIR itu.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *