Ekosistem digital Indonesia secara struktural membuat konflik lebih cepat viral daripada solusi.
Dominasi konten konflik di ruang digital Indonesia bukan kebetulan. Ia lahir dari struktur ekologi media yang terverifikasi lewat data resmi.
Indonesia memasuki fase masyarakat digital penuh. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat jumlah pengguna internet mencapai 221,6 juta orang pada 2024 dan meningkat menjadi sekitar 229,4 juta orang pada 2025, atau lebih dari 80 persen populasi.
Akses internet Indonesia bersifat mobile-first. Hampir seluruh pengguna mengakses internet melalui ponsel pintar. Pola ini menuntut konten cepat, ringkas, dan emosional.
Media sosial menjadi pintu utama arus informasi. Data DataReportal menunjukkan terdapat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial aktif di Indonesia pada akhir 2025. Angka ini mencerminkan intensitas penggunaan, bukan sekadar jumlah akun.
Di sisi lain, ruang produksi informasi sangat padat. Dewan Pers mencatat lebih dari 1.700 media daring terverifikasi di Indonesia. Semuanya berebut perhatian dalam ruang atensi yang sama.
Kompetisi ini bergerak di atas satu fondasi: trafik. Pendapatan iklan digital masih bergantung pada impresi dan klik. Model ini menempatkan perhatian publik sebagai mata uang utama.
Dalam struktur tersebut, algoritma platform berfungsi sebagai penyaring utama. Sistem tidak membaca nilai edukatif atau kepentingan publik. Ia hanya mengenali klik, komentar, dan durasi interaksi.
Konten konflik unggul secara sistemik. Ia memicu emosi, memperpanjang debat, dan menciptakan interaksi berulang. Konten solutif tidak memiliki karakter yang sama.
Riset global yang banyak dirujuk menunjukkan bahwa konten bermuatan emosi—terutama kemarahan dan konflik—menyebar lebih cepat dibanding konten informatif netral. Temuan ini berlaku lintas negara dan relevan dengan perilaku platform di Indonesia.
Ekologi media ini bertemu kondisi sosial yang sedang tegang. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tekanan ekonomi rumah tangga masih tinggi pascapandemi. Ketimpangan dan ketidakpastian belum sepenuhnya pulih.
Laporan kesehatan publik juga mencatat meningkatnya kelelahan psikologis di usia produktif. Ruang dialog formal tidak berkembang secepat tekanan sosial.
Media sosial lalu berfungsi sebagai katup emosi. Konten konfrontatif terasa lebih dekat dengan realitas sehari-hari. Ia tidak menuntut kesabaran.
Media arus utama tidak berada di luar tekanan ini. Organisasi profesi jurnalis mencatat penurunan pendapatan iklan mendorong penyederhanaan konteks dan penguatan judul sensasional.
Pilihan itu sering bersifat struktural, bukan personal. Media bertahan di dalam ekologi yang rapuh.
Narasi solutif menghadapi hambatan ganda. Ia membutuhkan waktu baca lebih panjang dan interaksi yang tidak eksplosif.
Sementara data perilaku pembaca menunjukkan durasi baca berita digital relatif singkat. Ekosistem memberi ganjaran pada kecepatan, bukan ketekunan.
Solusi tidak kalah penting. Ia kalah ekosistem.
Ketertarikan publik pada konflik bukan kemerosotan moral. Ia juga bukan semata kegagalan literasi.
Ia adalah konsekuensi desain sistem digital, ekonomi media berbasis trafik, dan kondisi sosial yang tegang. Lingkungan yang konflik akan membentuk perilaku konflik.
Media bukan hanya cermin publik. Media adalah bagian dari ekologi yang menentukan arah perhatian.
Di tengah kebisingan digital, tugas jurnalisme bukan menambah suara. Tugasnya menjaga arah, meski berhadapan dengan algoritma.***





