Dr. Amaral tak sendirian saat melihat benda itu. Dia ditemani oleh salah-satu guru dari sekolahnya, yang juga melihat bersama-sama di teleskop.
Namun, karena objek tersebut melintas di siang hari dan di langit kota kecil, otomatis semua orang juga melihatnya. Apalagi benda tersebut sedemikian anehnya.
Tak lebih dari 10 menit, benda itu lama-lama menghilang di kejauhan dan terhalang bukit dan pepohonan. Namun, tak lama kemudian lewat lagi objek terbang tak dikenal kedua, dengan arah datang dan pergi yang sama dengan objek pertama.
Namun objek kedua itu sedikit berbeda. Jika objek pertama agak gelap pada bagian atasnya, objek kedua ini tampak sama di bagian atas dan bawah: transparan dan terlihat bergerak bergelombang—entah karena angin atau memang demikian—dan mirip ubur-ubur. Objek kedua ini juga bergerak perlahan dengan ketinggian yang kurang lebih sama seperti objek pertama.

Amaral dan temannya juga memperhatikan objek itu dan melihatnya melalui teropongnya. Sayangnya, objek kedua ini juga tak terlihat fokus, karena dilihat dengan teropong untuk jarak jauh. Objek itu membuat semua orang yang melihatnya heran, takjub dan tak mengerti: objek apakah itu?
Yang lebih membuat seluruh warga kota lebih takjub lagi bagi adalah, tak lama setelah objek kedua lewat, jatuhlah serat-serat mirip sarang laba-laba yang sangat halus dari “atas langit” kota kecil tersebut.
Serat-serat tersebut sangat banyak menyebar. Tak hanya jatuh di bawah lintasannya, namun jatuh hampir di seluruh penjuru kota Évora, Portugal.

Ketika serat-serat tersebut jatuh, Dr. Amaral masih meneropong dengan teleskopnya di lapangan sekolahan yang berada persis di depan kantornya. Anak-anak yang sedang bermain di halaman sekolah ikut merasa heran sekaligus senang, karena serat-serat mirip sarang laba-laba mirip kapas itu juga jatuh di lapangan tempat mereka bermain, memenuhi seluruh halaman sekolah.





