Di tengah libur panjang akhir tahun, pemerintah membaca ulang cara orang bekerja—dan menemukan pusat perbelanjaan sebagai denyut baru produktivitas sekaligus konsumsi.
Menjelang tutup 2025, negara tidak hanya berbicara tentang arus mudik dan lampu hias Natal, tetapi juga tentang bagaimana ekonomi tetap bergerak ketika kantor-kantor mengendurkan ritmenya. Dari sanalah wacana Work From Mall(WFM) muncul: sebuah gagasan yang terdengar ringan, nyaris kasual, namun sarat muatan ekonomi. Ia lahir dari kebijakan Flexible Working Arrangement (FWA) atau Work From Anywhere (WFA) yang diterapkan pemerintah selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Bagi pemerintah, kerja fleksibel bukan sekadar soal kenyamanan pegawai. Ia adalah instrumen kebijakan—cara halus menjaga mobilitas tetap terkendali, layanan publik tidak terhenti, dan konsumsi rumah tangga terus berdenyut.
Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, menegaskan bahwa pengaturan kerja selama Nataru dirancang untuk mencegah penumpukan arus perjalanan sekaligus memastikan roda ekonomi tidak berhenti berputar. “Pengaturan kerja ASN pada periode Nataru ditujukan agar arus mobilitas tidak menumpuk, sekaligus aktivitas ekonomi tetap berjalan,” ujarnya dalam keterangan pers pertengahan Desember 2025.
Nada serupa disampaikan oleh Rini Widyantini, yang melihat fleksibilitas kerja sebagai respons administratif atas perubahan pola kerja masyarakat urban—lebih cair, lebih digital, dan semakin lepas dari sekat ruang kantor.
Dari WFA ke Meja Kerja di Mal
Wacana Work From Mall bukan kebijakan yang tiba-tiba jatuh dari langit. Ia tumbuh dari praktik yang sebenarnya sudah lama berlangsung. Kafe di pusat perbelanjaan, lounge dengan Wi-Fi cepat, hingga sudut-sudut co-working informal telah lama menjadi “kantor sementara” bagi pekerja lepas, pelaku ekonomi digital, hingga karyawan swasta yang bekerja jarak jauh.






1 Komentar