Durian. Tentu banyak orang kenal buah ini. Tapi, berapa orang yang kenal bunganya? Berapa orang yang tahu jika bunga dari buah beraroma tajam ini bisa diolah menjadi santapan lezat?
Pepatah lama mengatakan, “Tak kenal maka tak sayang”. Atau mungkin dalam dunia kuliner dimodifikasi sedikit: “Tak kenal maka tak kenyang”. Jadi, mari berkenalan dengan tumis bunga cengkaruk—masakan tumis khas Betawi dengan bahan utama bunga durian—biar kenal, mencoba, sayang, lalu kenyang.
Tidak ada catatan yang pasti mengenai asal-muasal santapan legendaris ini, namun banyak orang mengenalkan tumis bunga durian ini sebagai masakan khas Betawi yang legendaris.
Dulu, setiap musim durian datang—seperti sekarang ini—setiap anak di wilayah Jabodetabek, yang di sekitar rumahnya masih ada pohon duriannya, selalu berlomba-lomba memanen bunga buah durian selepas Subuh. Bunga yang jatuh di pagi hari masih segar dan bersih .
Putik bunga yang jatuh berwarna putih cerah dengan panjang sekitar 4-5 cm. Mahkotanya berwarna putih kecokelatan. Orang Betawi menamakannya karuk. Karena itulah, ketika sudah menjadi masakan, menunya disebut tumis bunga karuk atau tumis bunga cengkaruk.
Berburu karuk atau cengkaruk di saat musim durian jadi semacam ‘ritual wajib’ anak-anak yang lahir di era 1980-an. Mulai dari pukul 03.00 dini hari hingga azan Subuh berkumandang, di waktu-waktu itulah bunga durian berjatuhan.






