Bulan Ramadhan, sebagaimana sudah menjadi rahasia umum, identik dengan seremonial bagi-bagi takjil. Tradisi ini sudah menjadi kebiasaan di Tanah Air sejak zaman para wali, dan tetap dilestarikan hingga kini.
Hampir setiap daerah di Indonesia punya tradisi takjilannya sendiri, dengan kekhasan masing-masing. Seremonial khas tersebut diadakan rutin setiap tahun sehingga menjadi sebuah tradisi turun temurun sejak lama.
Kolak Ayam
Di Gresik, Jawa Timur, dikenal tradisi “sanggring gumeno” dengan menyajikan kolak ayam. Kolak ini merupakan hidangan tradisional berusia ratusan tahun yang berkembang di Desa Gumeno, Kelurahan Gumeno, Kecamatan Manyar, Gresik.
Rutinitas tersebut digelar setiap tahun, pada malam 23 Ramadhan. Mengutip dari kebudayaan.kemdikbud.go.id, dalam hajatan ini, masyarakat setempat menyediakan masakan kolak, yang dalam bahasa setempat disebut sanggring kolak. Ada ribuan porsi kolak dalam piring yang dinikmati bersama-sama.
Menurut catatan sejarah, tradisi kolak ayam ini berkaitan dengan riwayat pelarian seorang wali bernama Sunan Dalem, yang diyakini sebagai putra Sunan Giri, di Desa Gumeno.
Alkisah, ketika bermukim di desa itu, Sunan Dalem jatuh sakit. Dia pun meminta penduduk setempat agar berusaha mencari atau membuat obat untuknya. Sebagian penduduk sampai mencari obat ke segala daerah, tetapi tidak dapat menemukan obat maupun orang yang bisa menyembuhkan Sunan Dalem.
Setelah berusaha mencari dengan berbagai cara tanpa hasil, Sunan Dalem pun mendapat petunjuk dari Allah Swt. melalui mimpi.
Dalam mimpinya, Sunan Dalem diminta membuat suatu masakan dengan bahan jago lacur atau ayam jago yang berumur sekitar satu tahun.
Keesokan harinya, Sunan Dalem memerintahkan semua penduduk agar membawa seekor ayam jago sebagaimana kriteria yang dia dapatkan dalam mimpi.
Penduduk pun membawa ayam yang diminta Sunan, lalu mengolahnya dengan santan kelapa, jinten, gula merah, dan daun bawang. Maka, jadilah kolak ayam.
Peristiwa tersebut bertepatan dengan 23 Ramadan 946 H, atau 31 Januari 1540 M. Sunan Dalem pun menyantap kolak ayam bersama ketan saat berbuka puasa. Dia pun sembuh setelah menyantap masakan tersebut.
Maka dari itulah kolak ayam tersebut akhirnya dikenal dengan nama sanggring gumeno. Nama “sanggring” berasal dari kata “sang” dan “gring”. “Sang” berarti “raja” atau “pembesar”, sedangkan “gring” artinya “gering” atau “sakit”. Dengan demikian, sanggring berarti raja yang sakit. Masakan ini juga biasa disebut kolak ayam karena berbahan utama ayam.
Sunan Dalem dikisahkan memberi wasiat kepada semua penduduk Gumeno agar setiap tahun, pada malam 23 Ramadhan, mengadakan seremonial sanggring dengan menyajikan kolak ayam.
Masyarakat Gumeno pun melanjutkan tradisi bikin kolak ayam setiap tahun, sebagai bentuk kepatuhan terhadap wasiat Sang Sunan.
Pada mulanya, tradisi mengolah kolak ayam ini dikerjakan oleh laki-laki. Namun, sejak 1987, kaum perempuan mulai dilibatkan, tetapi hanya untuk memasak ketan, memarut kelapa, dan membersihkan bulu ayam. Kegiatan tersebut dikerjakan di rumah masing-masing.
Selanjutnya, parutan kelapa dan ayam yang sudah bersih diantarkan ke masjid setelah salat Tarawih. Kaum laki-laki melanjutkan prosesnya dengan memasak hingga menjadi sanggring gumeno atau kolak ayam.





