Tanem di Ngawi, Daricih di Jakarta, dan Carning di Tuban—tiga ibu pejuang hidup yang akhirnya punya rumah layak berkat bantuan OPSHID.
Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) membangun rumah layak bagi tiga keluarga di tiga daerah: Tanem (48) di Ngawi, Daricih (47) di Jakarta Utara, dan Carning (42) di Tuban. Seluruh biaya pembangunan—mulai material, ongkos tukang, hingga perabot—ditanggung penuh OPSHID tanpa pungutan apa pun. Program ini jadi wujud nyata semangat gotong royong dan kepedulian terhadap keluarga kurang mampu.
Tanem, seorang ibu buruh tani di Ngawi, hidup bertahun-tahun di rumah berdinding bambu yang rapuh. Sejak suaminya wafat, ia menjadi tulang punggung keluarga sambil memastikan tiga anaknya tetap sekolah. Rumahnya akhirnya dibangun ulang oleh OPSHID pada 20 September 2025.
“Saya bersyukur… Semoga Allah yang membalas,” ujarnya haru. Putra sulungnya bahkan menangis saat mendengar kabar pembangunan itu.

Di Jakarta Utara, Daricih yang sempat bekerja dua dekade di konveksi harus berhenti setelah upahnya tak dibayar. Bersama suami dan anak-anaknya, ia tinggal di rumah warisan sang ibu yang bocor dan kerap banjir. “Seneng banget… tabungan aja nggak punya, tapi Allah kirim orang-orang baik,” tuturnya. Kini, rumah kecilnya berukuran 3×8 meter itu berdiri kokoh dan nyaman.
Sementara di Tuban, Ibu Carning yang hidup dari upah buruh tani perlahan menabung batu kumbung, berharap suatu saat bisa membangun rumah sendiri. Harapan itu terkabul saat OPSHID datang membantu.





