Ternyata Limbah Panen Tembakau Bisa Diolah Menjadi Bahan Bakar Ramah Lingkungan

JAKARTA—Bahan bakar minyak dari fosil, yang saat ini umum digunakan oleh masyarakat, menimbulkan dampak pencemaran lingkungan, yang saat ini menjadi isu kesehatan yang sangat serius. Oleh karena itulah sumber bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan mulai banyak dipertimbangkan. Dan salah satu sumber bahan bakar potensial, menurut penelitian termutakhir, adalah mengolah pohon tembakau untuk dijadikan bioetanol.

Tembakau merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan) RI, produksi tembakau di Indonesia pada tahun 2021 mencapai 261.001 ton, dengan Jawa Timur sebagai penyumbang  produksi terbesar, 139.069 ton. Sedangkan produksi tembakau sepanjang 2022, menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS), mencapai 225,7 ribu ton.

Dari seluruh hasil tersebut, sekitar 99,6 persen produksi nasional berasal dari perkebunan rakyat, yakni perkebunan yang dikelola masyarakat dengan skala usaha kecil atau usaha rumah tangga.

Petani tembakau dari perkebunan rakyat menyumbangkan lebih dari 99 persen hasil produksi tembakau nasional. (Dok. SF)

Dalam sistem pengelolaan tembakau, pemanfaatan batang tumbuhan yang daunnya diolah menjadi rokok ini masih belum optimal. Saat ini, limbah pohon tembakau hanya dijadikan kayu bakar, atau dikeringkan untuk dibakar. Padahal, jumlah limbah batang tembakau yang dihasilkan cukup besar, mencapai 22 ribu pohon per hektare.

Sedangkan dalam limbah batang tembakau yang dibuang itu terkandung zat-zat bermanfaat, berupa 42,9 persen selulosa, 22 persen lignin, dan 29,8 persen hemiselulosa. Kandungan selulosa yang cukup tinggi ini menjadikan batang tembakau cukup potensial untuk dikembangkan menjadi produk bioetanol.

Bacaan Lainnya

Bioetanol menjadi salah satu bahan bakar terbarukan yang memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan di kemudian hari–di tengah meningkatnya harga bahan bakar minyak sebagai sumber tenaga mesin. Maka dari itu, menjadi hal yang menarik untuk mencari sumber bahan bakar alternatif, pengganti bahan bakar minyak yang saat ini berasal dari sumber fosil.

Prosedur pengubahan struktur selulosa menjadi glukasi dapat digunakan dengan metode penambahan asam yang dilarutkan pada suhu dan tekanan yang tinggi. Selanjutnya dilakukan proses fermentasi untuk menghasilkan produk akhir etanol, atau dikenal dengan bioetanol.

Bahan bakar etanol ini memiliki keunggulan, yaitu:

  • Merupakan sumber energi terbarukan yang tidak terbatas seperti bahan bakar fosil.

Sekadar informasi, kebutuhan konsumsi Energi Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia terus mengalami kenaikan seiring berkurangnya cadangan bahan bakar fosil.

Menurut hasil kajian Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang dipublikasikan pada tahun 2015, Pada tahun 2025, kebutuhan terhadap EBT ditargetkan mencapai 23 persen dari total energi yang dibutuhkan. Untuk itu, pemerintah telah menyusun berbagai opsi pemanfaatan EBT, salah satunya adalah dengan memanfaatkan Bahan Bakar Nabati (BNN). Salah satu jenis BBN berbasis biofuel adalah bioetanol.

  • Pembakaran etanol lebih bersih daripada bahan bakar fosil, yang berarti mengurangi emisi gas rumah kaca;
  • Bioetanol memiliki nilai oktan yang lebih tinggi dengan nilai 110;
  • Bioetanol memiliki kadar emisi yang rendah, penurunan emisi NO sebanyak 25 – 32 persen, penurunan emisi VOC sebanyak 20 persen, dan penurunan emisi CO 12 – 24 persen. Emisi Co2 juga lebih rendah, karena setiap mol bioetanol hanya menghasilkan 2 mol CO2. Berbeda dengan bensin yang dapat menghasilkan hingga 8 mol CO2.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *