Sebanyak 73 persen masyarakat Indonesia kini memprioritaskan tidur di atas aktivitas sosial, menurut laporan IKEA Sleep Report 2025 yang mengukuhkan tren ‘rebahan’ sebagai kebutuhan pokok baru.
Laporan terbaru dari IKEA Sleep Report 2025 mengungkapkan bahwa 73 persen warga Indonesia menempatkan tidur sebagai prioritas utama, bahkan rela mengorbankan waktu bersosialisasi demi mendapatkan istirahat berkualitas.
Indonesia mengungguli negara tetangga seperti Thailand (71 persen), Filipina (68 persen), dan Singapura (66 persen), dalam memandang tidur sebagai aktivitas krusial untuk pemulihan fisik dan mental di tengah padatnya rutinitas.
Bukan Malas, Tapi Kebutuhan Mental
Tingginya persentase ini tidak serta-merta bisa dimaknai sebagai bentuk kemalasan masyarakat Indonesia. Sebaliknya, laporan tersebut menegaskan adanya pergeseran paradigma. Tidur kini dipahami sebagai kebutuhan dasar untuk pemulihan fisik dan mental di tengah rutinitas harian yang semakin padat dan tingkat stres yang meningkat.
Tidur berkualitas kini dianggap sebagai fondasi penting atau bio-hack untuk menjaga fokus, suasana hati, dan produktivitas, bukan lagi dianggap sebagai penghambat kinerja.
Gen Z dan Pekerja Shift Paling ‘Pemuja’ Tidur
Menariknya, kecintaan terhadap aktivitas istirahat ini didominasi oleh generasi muda. Pada kelompok usia 18 hingga 24 tahun atau Gen Z, angka kecintaan terhadap tidur melonjak hingga 74 persen. Fenomena ini bahkan mulai menggeser gaya hidup bersosialisasi; lebih dari separuh responden mengaku lebih memilih tidur dibandingkan harus keluar rumah untuk beraktivitas sosial. Dengan lebih pilih tidur ketimbang nongkrong, Gen Z RI pimpin tren ‘Rebahan’ global!
Selain Gen Z, laporan IKEA Sleep Report 2025 juga memetakan tiga kelompok profesi dan status sosial yang paling memandang tidur sebagai kemewahan yang tak ternilai:
- Pekerja Shift Malam (75%): Menghargai tidur karena tantangan ritme biologis yang berat.
- Mahasiswa (74%): Menjadikan tidur sebagai momen paling dinanti di tengah tumpukan tugas.
- Orang Tua (74%): Memandang istirahat sebagai kebutuhan primer di sela kesibukan mengurus rumah tangga.
Isu Kualitas Tidur Global
Secara global, survei yang melibatkan 55.221 responden dari 57 negara ini menyoroti bahwa kualitas tidur telah menjadi perhatian dunia. Banyak masyarakat mengalami gangguan tidur akibat tekanan pekerjaan, penggunaan gawai berlebihan, hingga ketidakpastian ekonomi.
Dengan posisi Indonesia di urutan pertama, hal ini menjadi peluang besar bagi pemerintah maupun institusi kesehatan untuk memperkuat edukasi mengenai pentingnya lingkungan istirahat yang nyaman dan manajemen waktu yang seimbang demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh.***





