Dua warga miskin di Pasuruan, Subandiyah dan Subkhan, akhirnya punya rumah sendiri. Program Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah yang digerakkan OPSHID menjadi jawaban dari keterbatasan yang lama mereka alami.
Suara palu bersahutan di Dusun Sangarejo, Pasuruan, Senin (29/9). Sejumlah pemuda bergotong royong memasang genteng dan menyusun bata.
Di tengah kesibukan itu, Subandiyah, 69 tahun, duduk di kursi plastik menatap bangunan barunya. Seorang janda penjual rujak yang bertahun-tahun hidup menumpang, kini mendapat rumah sendiri lewat program Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah Fatchan Mubina (RSLHSFM).
“Saya selama ini numpang di rumah keponakan. Tapi karena keponakan mau menikah, saya harus cari tempat tinggal lain. Belum tahu mau ke mana,” ujarnya dengan suara bergetar.

Naf’an, Ketua DPD OPSHID Pasuruan, menjelaskan alasan pemilihan Subandiyah sebagai penerima program. “Beliau seorang janda, tulang punggung keluarga, tinggal menumpang. Jadi kami putuskan beliau yang berhak,” katanya.
Subkhan dan Rumah Reyotnya
Tak jauh dari sana, Subkhan (51), penjual batu akik, melihat rumahnya dibongkar. Atap lapuk yang ditopang kayu darurat akhirnya diturunkan. “Kalau hujan deras, saya tidak berani tidur. Takut ambruk,” kata Subkhan.
Penghasilannya yang kecil hanya cukup untuk makan bersama anaknya yang baru berusia delapan tahun. Anak itu terpaksa berhenti sekolah karena keterbatasan biaya. OPSHID pun menetapkannya sebagai penerima program. “Kalau tidak segera dibangun, musim hujan ini kemungkinan bisa roboh,” kata Naf’an.
Nafas Gotong Royong
OPSHID Pasuruan membangun dua rumah sekaligus: milik Subandiyah dan Subkhan. Kendala dana dan tenaga tukang mereka atasi dengan gotong royong. Warga datang bergantian, ada yang membantu pagi sebelum ke ladang, ada pula yang datang sore hari setelah pulang kerja.





