Golkar menandai kembalinya ke pusat kekuasaan dalam perayaan HUT ke-61 bersama Presiden Prabowo.
Presiden Prabowo Subianto berdiri di panggung Istora Senayan, Jakarta, Jumat, 5 Desember 2025, di tengah dominasi warna kuning yang mengisi arena. Puncak perayaan HUT ke-61 Partai Golkar tidak hanya seremonial, tetapi juga penanda kembalinya Golkar ke jantung kekuasaan setelah tumbang pada era reformasi 1998.
Golkar, yang akarnya merujuk pada ide integralistik-kolektivitis Soekarno, Soepomo, dan Ki Hadjar Dewantara pada 1940, muncul sebagai representasi golongan fungsional. Gagasan awalnya menolak struktur politik berbasis partai dan mengedepankan perwakilan golongan sebagai bentuk “demokrasi khas Indonesia.” Nama Golongan Karya sendiri lahir pada 1959, lalu menemukan bentuk organisasinya pada 1957 ketika sistem multipartai mulai berkembang.
Transformasi besar terjadi pada 1964 saat Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar) didirikan untuk menghadang pengaruh Partai Komunis Indonesia. Di bawah peran konseptor Bung Karno dan dorongan Jenderal Abdul Haris Nasution bersama Angkatan Darat, Golkar bergerak dari entitas anti-partai menjadi mesin politik yang kemudian mendominasi Pemilu 1971 dengan perolehan 62,8 persen suara.
Sejak itu, beringin kokoh berdiri sebagai salah satu kekuatan paling stabil dalam politik nasional. Hingga pada tahun 1998, Presiden Soeharto yang didukung kekuatan Beringin akhirnya tumbang setelah 32 tahun berkuasa. Soeharto ditumbangkan oleh gerakan mahasiswa 98.





