Pertumbuhan Ekonomi Surabaya Tembus 5,24 Persen, Pasar Tradisional Jadi Penggerak

Pasar tradisional di Surabaya menjadi penggerak ekonomi utama Kota Pahlawan. - Dok. Samudrafakta
Surabaya menegaskan pasar tradisional tetap jadi urat nadi ekonomi rakyat. Pemkot mengelola 77 pasar lewat dua jalur berbeda. Tahun ini 13 pasar direvitalisasi, tahun depan berlanjut.

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menegaskan pasar tradisional tetap menjadi penopang utama perekonomian rakyat. Pasar bukan sekadar pusat transaksi, tapi juga motor pertumbuhan ekonomi Kota Pahlawan.

Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Surabaya, Vykka Anggradevi Kusuma, menjelaskan pengelolaan pasar terbagi dua. Sebagian berada di bawah PD Pasar Surya sebagai BUMD, sebagian lain dikelola Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Perdagangan (Dinkopumdag).

“Kalau Bagian Perekonomian itu sebagai pembina dari BUMD. Karena PD Pasar merupakan salah satu BUMD milik Pemkot, maka PD Pasar Surya di bawah pembinaan kami,” kata Vykka, Senin (29/9).

Ia menegaskan pengelolaan pasar tidak hanya soal pendapatan asli daerah (PAD), tapi juga perputaran ekonomi rakyat. “Ekonomi UMKM mikro itu penting karena mereka fondasi pertumbuhan ekonomi Surabaya,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

Surabaya mencatat pertumbuhan ekonomi 5,24 persen pada triwulan II, di atas rata-rata provinsi maupun nasional. Namun, Vykka menilai penguatan ke depan tidak hanya lewat pasar, tapi juga pariwisata.

13 Pasar Direvitalisasi

Hingga kini ada 13 pasar yang sedang direvitalisasi. Tahun depan, pembangunan dilanjutkan bertahap. “Pasar Keputran Selatan akan dibangun baru, khusus untuk ayam. Supaya perputaran ekonominya lebih fokus,” jelas Vykka.

Revitalisasi juga menyasar pasar strategis seperti Pasar Blauran dan Pasar Tunjungan. “Konsepnya, PD Pasar akan berubah jadi Perseroda. Jadi seperti PT, bisa bekerja sama dengan investor, tidak hanya mengandalkan penyertaan modal,” tambahnya.

Dua Jalur Pengelolaan

Kepala Dinkopumdag Surabaya, Febrina Kusumawati, menyebut pihaknya mengelola 13 pasar, antara lain Pasar Nambangan, Sememi, Gunung Anyar, dan Dukuh Menanggal. “Selain itu, ada pasar tradisional yang dikelola swasta maupun LPMK,” katanya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *