Penerima awal rumah syukur di Bekasi batal mendadak. Panitia panik, lalu meninjau sembilan rumah baru. Akhirnya, pilihan jatuh ke Nenek Rokiyah (75) yang tinggal di rumah reyot 3×6 meter.
Program Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah Fatchan Mubina (RSLHSFM) di Bekasi tahun ini nyaris gagal dimulai sesuai rencana. Menjelang peletakan batu pertama, keluarga penerima yang sudah ditetapkan tiba-tiba mengundurkan diri.
“Panik bukan main. Malam itu kami sampai tidak bisa tidur,” ujar Chandra, Sekretaris Jenderal DPD OPSHID Bekasi, Selasa (30/9).
Situasi genting itu membuat panitia berkoordinasi cepat dengan aparat desa. Mereka meninjau sembilan rumah calon penerima baru. Setelah melalui musyawarah, rumah Nenek Rokiyah (75) di Kampung Jagawana RT 06 RW 05, Desa Sukarukun, Kecamatan Sukatani, diputuskan sebagai penerima.
Hunian Rokiyah berukuran hanya 3×6 meter. Rumah reyot itu dihuni enam orang anggota keluarganya. Dua cucunya setiap hari belajar mengaji di Bustanul Tsamrotul Qolbin Salim (BTQ) Shiddiqiyyah yang tak jauh dari rumah.
Chandra menyebut, ada tiga pertimbangan utama pemilihan Rokiyah: kondisi rumah yang sangat tidak layak, lokasinya dekat BTQ, dan dukungan warga sekitar yang tinggi. “Alhamdulillah, warga ikut mendukung penuh,” katanya.
Pembangunan pun akhirnya berlangsung lancar. Warga bergotong royong, pemuda Shiddiqiyyah ikut turun tangan, dan aparat desa hingga kepolisian setempat memberi dukungan penuh. “Semangatnya luar biasa,” ujar Chandra.
Program Rumah Syukur di Bekasi sendiri digilir tiap tahun ke tiga pos besar: Kota Bekasi, Tambun, dan Cikarang. Tahun ini giliran Cikarang. “Harapannya, pemuda-pemuda di area Cikarang makin semangat. Yang tadinya tertidur, bisa bangun kembali,” ucap Chandra.





