Pecel. Siapa tak kenal sajian khas pulau Jawa satu ini? Resep asli Nusantara ini memang sedap, cara bikinnya pun sederhana. Cukup dengan sayuran direbus lalu disiram sambal kacang, jadilah pecel makanan penggugah selera. Dan ternyata, pecel adalah sajian makanan yang sudah sangat tua. Menu ini dicatat dalam banyak naskah kuno Nusantara.
Salah satu naskah kuno yang menyebut “pecel” di dalamnya adalah Babad Tanah Jawa. Babad tersebut menceritakan, ketika Ki Ageng Pamanahan menempuh perjalanan ke Mataram, dia singgah di di Dusun Taji, tepatnya di kediaman seorang warga bernama Ki Ageng Karang Lo.
Ketika itu tuan rumah menyuguhkan jamuan berupa nasi dengan sayur rebus yang disiram bumbu kacang, daging ayam, dan sayur menir daun bayam untuk Ki Ageng Pamanahan.
Setelah selesai menyantap hidangan, Ki Ageng Pamahanan berkata, “Terima kasih, Ki Sanak, hidangannya enak sekali. Saya sungguh berutang budi pada Ki Sanak. Semoga kelak saya dapat membalasnya”.
Ki Gede Pemanahan pun menanyakan apa nama hidangan yang disajikan untuknya itu. Ki Ageng Karang Lo menjawab, “Puniko ron ingkang dipun pecel—itu (sajian) namanya pecel”. Pecel yang dimaksud Ki Ageng Karang Lo merujuk pada menu dedaunan yang direbus dan diperas airnya. Sejak saat itulah, menurut Babad Tanah Jawa, sajian tersebut dikenal dengan nama pecel.
Pecel diprediksi sudah ada sejak abad ke-9. Di beberapa daerah, khususnya Madiun—yang pada masa lalu termasuk dalam wilayah kekuasaan Mataram Islam—pecel mempunya ciri khas berupa kembang turi. Pecel yang terkenal sederhana dan murah meriah ini, ternyata sudah ada sejak abad ke-9.





