OPSHID Hadirkan Rumah Syukur Pertama di Kota Termiskin ke-4, Meski Tanpa Basis Anggota

Hani Abdul, penerima program Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah Fatchan Mubina di Gorontalo. - Dok. OPSHID
OPSHID hadirkan rumah syukur pertama di Gorontalo untuk Hani Abdul, janda 69 tahun. Meski tanpa basis anggota, satu relawan pulang kampung bawa semangat gotong royong dan harapan baru.

Di ujung Jalan Usman Isa, Kelurahan Pilolodaa, Kota Gorontalo, berdiri sebuah rumah reyot yang sudah lama kehilangan kelayakan. Di sanalah Hani Abdul, janda 69 tahun, melewati hari-harinya. Sejak kepergian sang suami kurang dari seratus hari lalu, hidupnya hanya ditopang anak tunggal, Nanang Mohammad (36), tukang batu dengan penghasilan pas-pasan.

Ranjang reyot menjadi tempat Hani beristirahat, dinding lapuk jadi saksi ketabahan seorang perempuan di usia senja. Namun, sebentar lagi, semua itu bakal berubah. Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) melalui program nasional Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah Fatchan Mubina (RSLHSFM) membawa secercah harapan: rumah baru untuk Hani.

Yang membuat proyek pembangunan ini istimewa, Gorontalo sama sekali belum memiliki basis OPSHID. Tak ada komunitas, tak ada cabang resmi. Hanya ada satu nama: Iden Gobel, anggota OPSHID kelahiran Gorontalo yang kini tinggal di Jakarta Utara. Ia pulang kampung, bukan dengan tangan kosong, melainkan dengan tekad menghadirkan rumah layak bagi seorang janda miskin.

“Alasan membangun di sini karena ibu Hani memang berhak mendapatkan rumah yang layak. OPSHID di sini hanya saya seorang, tapi itu bukan halangan. Gorontalo masih termasuk kota termiskin ke-4 di Indonesia, jadi ini panggilan hati. Mudah-mudahan menjadi berkah,” ujar Iden, Ahad (28/9).

Bacaan Lainnya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *