Menjelang Hari Sumpah Pemuda dan 97 tahun lagu kebangsaan Indonesia Raya, OPSHID Bojonegoro membangun tiga rumah gratis bagi keluarga miskin. Bukti sahih bahwa pemuda Indonesia itu masih merawat budaya gotong royong.
__________
Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) membangun tiga rumah syukur layak huni di Bojonegoro, Jawa Timur. Program ini bagian dari gerakan nasional membangun 97 Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah Fatchan Mubiina (RSLHSFM) yang dilaksanakan serentak di 17 provinsi.
Tiga keluarga yang mendapat rumah baru adalah Ibu Saki di Desa Pohwates, Ibu Sarni di Desa Setren, dan Bapak Wiji di Desa Sumberbendo. Sebelumnya mereka tinggal di rumah reyot dengan kondisi dinding lapuk dan lantai tanah.
“Kalau hujan lebat, kami sering pindah tidur di dapur. Sekarang saya tak perlu lagi takut rumah roboh,” kata Ibu Saki, Rabu (24/9). Senada, Ibu Sarni menyebut rumah baru itu “seperti mimpi” baginya.
Ketua OPSHID Bojonegoro, Moch Muhlisin, mengatakan program ini adalah amanah dari Mursyid Tarekat Shiddiqiyyah, Kiai Moch. Muchtar Mu’thi, untuk melayani iman, kemanusiaan, dan kealaman. “Semoga rumah-rumah ini membawa berkah dan meringankan beban keluarga penerima,” ujarnya.
Gerakan ini diyakini lebih dari sekadar membangun rumah. OPSHID menekankan gotong royong adalah kunci memecahkan persoalan sosial. “Dengan semangat kebersamaan, kita mampu menyelesaikan persoalan papan,” kata M. Asep Awaludin, pengurus DPD OPSHID Bojonegoro.
Selengkapnya baca di sini.





