JAKARTA | SAMUDRA FAKTA – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Yahya Cholil Staquf menyatakan menolak politik identitas. Pria yang akrab disapa Gus Yahya itu menegaskan, yang lebih penting untuk dikembangkan adalah wawasan yang rasional dalam upaya memperjuangkan kemanusiaan secara menyeluruh.
“NU ngotot (berkukuh) menolak politik identitas. NU menolak identitas-identitas digunakan sebagai senjata politik untuk menggalang dukungan. Tidak identitas Islam, tidak juga identitas NU itu sendiri,” tegas Gus Yahya dalam Simposium Nasional Satu Abad NU di Surabaya, Jawa Timur, Minggu, 19 Februari 2023, sebagaimana dilansir oleh halaman Nu Online, dikutip Kamis, 23 Februari 2023.
NU menolak praktik politik identitas, kata Gus Yahya, lantaran tidak mau masuk ke dalam suatu dinamika kompetisi politik yang hanya melulu didasarkan pada pembelaan identitas-identitas. Dalam pandangannya, membela identitas akan cenderung mengarah pada kompetisi yang irasional atau tidak berdasar pada akal sehat.
“Kalau NU lawan yang bukan NU, maka itu tidak ada argumen rasional di sana. Kalau bukan NU, pokoknya enggak mau. Kalau enggak qunut, enggak mau. Mulai puasanya bareng apa enggak? Kalau enggak bareng enggak mau. Tidak ada argumentasi rasional,” jelas Gus Yahya.
Menuruf dia, apabila tidak ada argumentasi yang rasional dalam kompetisi, maka tidak akan ada pendidikan politik. Dampaknya, bakal timbuh demokrasi yang irasional. “Bahkan, di sisi lain, ini akan sangat berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara,” ucap kiai yang memperoleh gelar Doktor Honoris Causa dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu. Untuk itu, Gus Yahya meminta semua pihak agar mampu mengelola perbedaan-perbedaan yang ada di antara sesama anak bangsa, apa pun perbedaannya, sehingga tetap dalam kerangka kesadaran persaudaraan.





