Intoleransi menjadi isu rutin yang muncul setiap menjelang akhir tahun Masehi di Indonesia. Fenomena ini sebenarnya aneh, karena sifat nirtoleran bukanlah khas Bangsa Indonesia. Buka mata benar-benar dan lihatlah, banyak hal bersebaran di sekitar kita yang mengajarkan bahwa karakter asli kita ini adalah toleran terhadap sesama. Salah satunya seperti jejak toleransi yang direkam dengan baik oleh kuliner khas Kota Kretek Kudus: sate daging kerbau.
Sate kerbau—juga pasangannya, sop kerbau—lahir sebagai salah satu bentuk praktik toleransi yang awet sampai sekarang. Kuliner khas Kota Kretek ini mulai diperkenalkan di zaman ketika Sunan Kudus berdakwah. Dalam menyebarkan agama Islam di wilayah dakwahnya, Sunan Kudus menghormati masyarakat setempat yang mayoritas aslinya menganut agama Hindu dengan tidak mengonsumsi daging sapi. Sang Sunan menganjurkan pemeluk Islam untuk mengonsumsi daging kerbau. Kebiasaan tersebut terpelihara hingga kini.
Dan saat ini, berziarah ke Kota Kretek tak lengkap rasanya tanpa memanjakan lidah dengan sate kerbau—warisan semangat toleransi Sang Sunan itu. Bersama soulmate-nya, sop kerbau, kuliner ini tersebar hampir di setiap sudut Kota Kudus.
Salah satu penyaji sate dan sop daging kerbau yang cukup kondang adalah warung Sate Kerbau Menara. Lokasinya tak jauh dari menara Kudus. Warung sederhana ini sudah ada di situ sejak lebih dari 50 tahun lalu. Penjualnya turun temurun, sudah lebih dari tiga generasi. Meski warungnya sederhana, pengunjung yang datang bukanlah orang-orang sembarangan. Pakar kuliner, alm. Bondan Winarno, pun pernah memanjakan lidahnya di tempat ini.






