JAKARTA—Aksi bullying kembali menjadi sorotan publik pasca-terjadinya dua peristiwa memilukan yang menimpa seorang santri sebuah pondok pesantren (ponpes) di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, dan seorang siswa sebuah sekolah elite di kawasan Serpong, Kota Tangerang Selatan, yang melibatkan anak seorang pesohor. Kenapa bullying bisa terjadi? Dan bagaimana cara mengantisipasinya?
Dalam kejadian di Kediri, si santri dirundung dan dipersekusi hingga menyebabkan dia meninggal dunia. Sementara dalam kejadian Tangsel, korban dianiaya dan disundut rokok.
Bullying merupakan tindakan perilaku yang merugikan dan berulang terhadap seseorang yang lebih lemah. Tindakan ini seringkali menimbulkan dampak yang signifikan pada kesehatan mental dan emosional korban.
Bullying pun tidak hanya merupakan permasalahan di kalangan anak-anak dan remaja, tetapi juga di lingkungan kerja dan dunia daring.
Bullying juga dapat dijelaskan sebagai perilaku agresif atau merendahkan diri yang diarahkan kepada seseorang secara terus-menerus. Ini bisa terjadi dalam berbagai bentuk, seperti fisik, verbal, atau elektronik (cyberbullying).
Menurut Olweus (1993), seorang pakar psikologi yang terkenal dengan penelitian bullying, definisi bullying mencakup tiga elemen utama, yaitu adanya perilaku negatif dan merugikan, ketidakseimbangan kekuatan atau status antara pelaku dan korban, dan adanya unsur repetitif atau terulang.

Dirangkum dari berbagai sumber, ada beberapa faktor yang menjadi pemicu terjadinya bullying atau perundungan, yaitu:
- Ketidaksetaraan Kekuatan
Bullying seringkali muncul dalam hubungan yang tidak seimbang terkait ekuatan atau status. Maksudnya, yang menjadi korban adalah mereka yang secara fisik maupun sosial lebih lemah daripada pelaku.
- Ketidakpastian Sosial
Pelaku bullying mungkin mencari cara untuk mendapatkan rasa kontrol atau kekuasaan atas orang lain sebagai tanggapan terhadap ketidakpastian dalam hidup mereka.
- Model Perilaku
Anak-anak atau individu dapat meniru perilaku bullying setelah melihatnya dari orang-orang di sekitar mereka. Banyaknya tontonan di media sosial yang mempertunjukkan praktik bullying menjadi salah satu ‘rujukan’ bagi pelaku perundungan.
- Ketidakcukupan Dukungan Sosial
Orang yang merasa terisolasi, atau tidak memiliki dukungan sosial yang cukup, lebih rentan menjadi korban bullying. Faktor ini terkait dengan faktor pertama.
- Tingkat Stress yang Tinggi
Tingkat stres yang tinggi dapat memicu perilaku agresif sebagai mekanisme koping.





