Media massa seharusnya mendidik dan mencerahkan, bukan memecah dan memprovokasi. Tapi kini, banyak media justru menjadikan konflik sebagai komoditas paling laku di ruang publik.
Oleh: Redaksi Samudrafakta
Salah satu fungsi klasik media massa, sebagaimana ditegaskan Harold D. Lasswell dalam teori fungsionalisme komunikasinya (1948), adalah to educate the public — mendidik masyarakat melalui informasi yang akurat, bernilai, dan mencerahkan.
Bersama fungsi lainnya — to inform, to entertain, dan to persuade — fungsi edukatif ini menjadi jantung moral keberadaan media. Namun, dalam realitas hari ini, media kita seperti melupakan “jiwa” itu. Alih-alih mencerdaskan, ia sering kali memprovokasi. Alih-alih menjadi ruang belajar publik, ia berubah menjadi arena pertengkaran nasional.
Media sebagai Agen Sosialisasi Pengetahuan
Dalam kerangka sosiologi komunikasi, media massa berperan sebagai agen sosialisasi nilai dan pengetahuan. Melalui konsep agenda-setting (McCombs & Shaw, 1972), media bukan hanya menyampaikan isu, tetapi juga menentukan isu apa yang dianggap penting oleh publik. Fungsi edukatif muncul saat media memandu masyarakat memahami kompleksitas peristiwa — bukan sekadar memanaskannya.
Teori uses and gratifications (Blumler & Katz, 1974) bahkan menempatkan audiens sebagai pihak aktif yang mencari informasi untuk meningkatkan kapasitas dirinya. Namun, semua teori ini runtuh ketika media lebih sibuk mencari clicks ketimbang clarity, lebih peduli pada sensasi ketimbang substansi.
Krisis Etika dan Ekonomi di Balik Pemberitaan
Kita hidup di zaman attention economy, di mana perhatian publik adalah komoditas. Di sinilah letak kemerosotan fungsi edukatif media.





