Lama Tinggal di Rumah Mirip Gudang dan Terbelit Masalah Dokumen, Tiga Warga Surabaya Kini Dapat Rumah Syukur

Tiga keluarga di Surabaya akhirnya bisa bernapas lega. Rumah mirip gudang, gedek pengap, hingga rumah veteran yang hampir roboh, diganti rumah layak huni lewat program Rumah Syukur OPSHID.

Hidup di kota besar bukan berarti tinggal di rumah nyaman. Mardianto (50), Sudarni (63), dan Sri Winarti (54) membuktikannya. Bertahun-tahun mereka tinggal di rumah tak layak huni di Kota Metropolitan Surabaya, hingga akhirnya menerima bantuan Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah Fatchan Mubina (RSLHSFM).

Program yang digerakkan Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) Front Ketuhanan Yang Maha Esa itu menyasar warga paling rentan.

Dari Gudang di Wiyung

Mardianto, karyawan swasta dan bapak dua anak, lebih memilih ngekos di Ngagel agar dekat kantor. Rumah warisan orang tuanya di Jajar Tunggal, Wiyung, sudah tak layak. Gelap, lembap, penuh barang menumpuk. 

“Kalau ditinggali, bukannya sehat malah sakit,” ujar Choi, Sekretaris OPSHID Surabaya, Selasa (30/9).

Bacaan Lainnya
Rumah Mardianto sebelum dibangun, yang mirip gudang. – OPSHID SURABAYA
Rumah Pengap di Balongsari

Sudarni tinggal bersama anak, menantu, dan cucu di rumah pengap di Balongsari. Putrinya hanya mendapat penghasilan dari menjaga lapak gorengan milik tetangga. Atap rendah membuat udara sulit masuk.

Pembangunan sempat terhambat urusan administrasi. RT/RW setempat mempertanyakan status tanah dan meminta imbalan. “Kami tetap lanjut setelah tunjukkan dokumen sah,” kata Choi.

Sudarni dan putrinya (kiri), serta kondisi rumah mereka sebelum dibongkar untuk dibangun ulang. – OPSHID SURABAYA
Rumah Veteran di Pakal

Sri Winarti, janda dua anak, menghuni rumah peninggalan mertua veteran di Pakal. Atap bocor, dinding retak, banjir setiap hujan. Seluruh keluarga hanya menempati ruang tamu yang difungsikan sebagai kamar serbaguna.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *