Korban Ternyata Penerima PIP, Kemendikdasmen Soroti Kasus Siswa SD NTT

Siswa SD Bunuh Diri
Ilustrasi gantung diri. - Pixabay
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengungkapkan belasungkawa atas meninggalnya siswa SD tersebut.

Siswa berinisial YBS (10) yang duduk di kelas 4 SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) diduga mengakhiri hidupnya karena putus asa dengan kondisi ekonomi keluarganya. Siswa tersebut diduga bunuh diri karena tidak mampu membeli buku dan pena untuk ia gunakan bersekolah.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengungkapkan belasungkawa atas meninggalnya siswa SD tersebut.

“Kemendikdasmen menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya salah satu murid sekolah dasar di Kabupaten Ngada, NTT. Peristiwa ini menjadi keprihatinan bersama dan kami menyampaikan empati kepada keluarga, teman, guru, serta seluruh warga sekolah yang terdampak,” ujar Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dalam keterangan tertulis, seperti dikutip Kamis (5/2/2026).

Atip melanjut, Kemendikdasmen memandang peristiwa ini sebagai kejadian yang sangat serius, serta mengingatkan bahwa kesejahteraan psikososial anak merupakan isu yang kompleks.

Bacaan Lainnya

“Kondisi emosional anak dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait, sehingga memerlukan perhatian dan dukungan berkelanjutan dari keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara,” imbuhnya.

Atip mengatasi, sebagai bagian dari kebijakan afirmasi pendidikan, mendiang murid tercatat sebagai penerima manfaat Program Indonesia Pintar (PIP), yang dananya telah disalurkan sesuai mekanisme yang berlaku. Namun demikian, Kemendikdasmen menegaskan bahwa pemenuhan hak dan perlindungan anak, khususnya bagi anak-anak dari keluarga rentan, tidak dapat berhenti pada dukungan finansial semata, melainkan harus mencakup pendampingan psikososial, perhatian moral, dan lingkungan tumbuh kembang yang suportif.

“Saat ini, Kemendikdasmen melalui Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) NTT telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah bersama perangkat daerah terkait untuk melakukan pendampingan kepada keluarga, termasuk menyiapkan dukungan keberlanjutan pendidikan bagi anggota keluarga lainnya. Selain itu, koordinasi lintas sektor juga dilakukan untuk memastikan keluarga mendapatkan akses layanan sosial dan pendidikan yang dibutuhkan,” terangnya.

Peristiwa ini, kata Atip, menjadi pengingat bagi semua akan pentingnya menghadirkan lingkungan yang aman, nyaman, dan suportif bagi tumbuh kembang anak.

Satuan pendidikan bersama orang tua dan masyarakat memiliki peran penting dalam membangun komunikasi terbuka di mana setiap anak merasa aman untuk mengekspresikan kerentanan mereka, memperkuat kepedulian terhadap kondisi emosional anak, serta memastikan setiap anak merasa didengar, dihargai, dan mendapatkan pendampingan yang memadai.

“Kami mengajak seluruh pihak untuk menyikapi informasi secara bijak serta menghindari penyebaran spekulasi yang berpotensi menambah beban psikologis bagi keluarga korban dan komunitas sekolah,” tandasnya.

Kemendikdasmen menegaskan pentingnya dukungan bersama dari sekolah, keluarga, masyarakat, media, serta pemerintah pusat dan daerah dalam menghadirkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan suportif bagi anak, sebagai bagian dari upaya pencegahan peristiwa serupa di masa mendatang. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0 Komentar