Setelah puluhan tahun hidup di rumah nyaris roboh tanpa bantuan pemerintah, janda seorang imam di Gorontalo akhirnya melihat harapan tumbuh kembali lewat tangan-tangan pemuda Shiddiqiyyah yang membangun rumahnya dengan cinta dan gotong royong.
Di sudut gang Pilolodaa, Kota Gorontalo, aroma semen baru masih terasa. Di dalam rumah sederhana yang baru rampung dicat, seorang perempuan tua duduk di kursi roda sambil menatap dinding kokoh di hadapannya.
“Alhamdulillah, seperti mimpi,” bisiknya pelan. Ia adalah Hani Abdul (63), janda dari almarhum Usman Mohamad — imam Masjid Sabilil Muhtadin yang puluhan tahun mengabdi tanpa pernah menuntut apa pun.
Selama hidupnya, Usman dikenal masyarakat karena kesetiaannya pada tugas kecil yang tak pernah dilihat kamera: memimpin salat, mengurus jenazah, menenangkan duka.
Tak ada rumah dinas, tak ada tabungan. Rumah papan yang mereka tinggali hampir roboh, dan setelah Usman wafat empat bulan lalu, Hani tinggal bersama anaknya dalam keadaan nyaris menyerah.
Sampai suatu hari, sekelompok pemuda datang membawa kabar yang tak pernah ia bayangkan: rumahnya akan dibangun ulang oleh Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID). “Saya kira mereka hanya survei. Ternyata, benar-benar dibangun,” ujarnya sambil tersenyum.
Dalam waktu sebulan, rumah reyot itu menjelma tempat tinggal layak. Bukan karena program pemerintah, tapi karena gotong royong anak-anak muda yang menamakan gerakan mereka Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah Fatchan Mubiina. Program itu telah membangun hampir seratus rumah di seluruh Indonesia, dan Gorontalo menjadi salah satu saksinya.





