Ketika Doa Jadi Peluru: Santri dan Fatwa Jihad di Medan Surabaya

Mereka tak punya tank, hanya bambu runcing dan doa. Tapi di Surabaya 1945, doa berubah jadi peluru — dan pesantren menjadi benteng republik. - Ilustrasi dibuat menggunakan SORA
Dari resolusi jihad hingga 10 November, semangat santri menjelma nyala perlawanan bangsa.

Tiga bulan setelah proklamasi kemerdekaan, pasukan NICA datang membonceng Sekutu. Dua ulama besar—Syaikhona Kholil Bangkalan dan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari—menjadi penopang spiritual bangsa. 

Dari tongkat dakwah Kiai Kholil, lahir fatwa jihad lewat Mbah Hasyim: “Mempertahankan kemerdekaan Indonesia hukumnya fardhu ‘ain.” Dalam sekejap, pesantren berubah menjadi barak perjuangan. Para santri meninggalkan kitab kuning dan berangkat ke Surabaya, menenteng bambu runcing serta keyakinan.

Pada 21–22 Oktober 1945, para ulama merumuskan Resolusi Jihad di kantor NU Bubutan, Surabaya. Keputusan itu disiarkan Bung Tomo lewat radio, menggema menjadi seruan “Allahu Akbar!” yang menyulut perlawanan massal. Surabaya berubah menjadi samudra manusia. 

Santri dan arek-arek Suroboyo bersatu menghadapi tank Inggris. Dalam hitungan hari, dua jenderal Inggris—Mallaby dan Simon—tewas di tangan rakyat jelata.

Bacaan Lainnya

Semua bermula dari insiden Hotel Yamato, 18 September 1945, saat pemuda Koesno dan Hariyono merobek warna biru bendera Belanda. Api perlawanan pun membesar. Pada 29 Oktober, Jenderal Mallaby tewas dalam bentrokan di Jembatan Merah. Meski Soekarno menyerukan penghentian perang atas permintaan Sekutu, Soedirman dan Tan Malaka berseru tegas: “Tuan rumah tak akan berunding dengan maling yang merampok rumahnya!”

Pertempuran Surabaya 10 November 1945 menjadi saksi lahirnya bangsa yang berani melawan maut. Dunia terperanjat: negara muda berumur tiga bulan menundukkan pasukan Sekutu. Dari santri bersarung hingga ulama di surau, mereka membuktikan bahwa kemerdekaan berdiri di atas darah dan doa. Selama bangsa ini masih sujud pada Tuhan, tak ada penjajah yang bisa menundukkannya lagi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *