Jumlah penduduk miskin Jawa Timur 2025 nyaris 10 persen, lansia desa paling terdampak.
Badan Pusat Statistik mengungkapkan jumlah penduduk miskin di Jawa Timur pada 2025 mencapai 3,876 juta jiwa atau 9,50 persen dari total penduduk. Angka ini mendekati ambang 10 persen yang kerap dikaitkan dengan kemiskinan kronis.
Kepala BPS Jawa Timur, Zulkipli, menyebut capaian tersebut menjadi tantangan besar bagi pemerintah daerah. Data rinci, menurut dia, menjadi kunci penyusunan kebijakan yang lebih tepat sasaran.
“Untuk menyusun kebijakan, data yang akurat dan rinci sangat dibutuhkan. Perlu dikaji lebih dalam tentang karakteristik penduduk miskin, mulai dari aspek demografi, pendidikan, kesehatan hingga perumahan,” kata Zulkipli, dikutip Sabtu (10/1/2026).
Lansia Mendominasi Rumah Tangga Miskin
Dari sisi demografi, BPS menyoroti karakteristik kepala rumah tangga miskin berdasarkan jenis kelamin, usia, status perkawinan, kepemilikan dokumen kependudukan, hingga jenis pekerjaan.
Pada 2025, kepala rumah tangga miskin paling banyak berasal dari kelompok usia 60 tahun ke atas, dengan persentase 34,34 persen. Proporsi ini lebih tinggi di perdesaan dibandingkan perkotaan.
“Persentase kepala rumah tangga miskin berusia 60 tahun ke atas di kota sebesar 32,35 persen, lebih rendah dibanding desa yang mencapai 35,74 persen,” ujar Zulkipli. Kondisi ini menunjukkan perlunya kebijakan khusus untuk pengentasan kemiskinan kelompok lansia.
Pola Gender dan Status Perkawinan
BPS mencatat, proporsi kepala rumah tangga miskin laki-laki di wilayah perkotaan lebih rendah dibandingkan perdesaan. Sebaliknya, persentase kepala rumah tangga miskin perempuan di desa lebih kecil dibandingkan kota.
Berdasarkan status perkawinan, mayoritas kepala rumah tangga miskin berstatus kawin, yakni 83,75 persen. Sisanya terdiri dari cerai mati 12,63 persen, cerai hidup 2,30 persen, dan belum kawin 1,27 persen.
Meski pola di kota dan desa relatif serupa, kepala rumah tangga miskin berstatus belum kawin dan cerai mati lebih banyak ditemukan di perkotaan. Sementara itu, status kawin lebih dominan di wilayah perdesaan.





