Menjelang penutup tahun, cuaca di Jawa Timur bergerak tak menentu—dan peringatan kini datang lebih awal dari langit.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika melalui BMKG Juanda mengimbau masyarakat Jawa Timur untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan berlangsung hingga 31 Desember 2025. Rentang waktu sebelas hari ke depan dinilai krusial, dengan peluang hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir, angin kencang, bahkan hujan es.
Cuaca ekstrem yang dimaksud tidak berdiri sendiri. Ia membawa paket risiko yang kerap menyertainya: banjir, banjir bandang, tanah longsor, hingga puting beliung. Ancaman ini membentang hampir merata, menjangkau wilayah pesisir, dataran rendah, hingga kawasan perbukitan dan pegunungan di seluruh Jawa Timur.
Daftar wilayah yang berpotensi terdampak panjang dan lintas bentang alam. Mulai dari Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Kediri, Malang, hingga Lumajang dan Jember. Wilayah tapal kuda seperti Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, Probolinggo, dan Pasuruan juga masuk radar kewaspadaan.
Di bagian tengah hingga barat, potensi serupa mengintai Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Madiun, Magetan, Ngawi, hingga kawasan pantura seperti Bojonegoro, Tuban, Lamongan, dan Gresik. Pulau Madura pun tak luput, mencakup Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.
Kota-kota besar—Surabaya, Batu, Blitar, Kediri, Probolinggo, Pasuruan, Mojokerto, dan Madiun—juga berada dalam lintasan cuaca basah yang sama, menandakan bahwa kepadatan urban bukan penangkal dari risiko atmosfer.
Monsun Asia dan Awan yang Tumbuh Cepat
BMKG Juanda menjelaskan, peningkatan intensitas cuaca ekstrem dipicu oleh aktifnya monsun Asia yang membawa massa udara basah ke wilayah Jawa Timur. Situasi ini diperkuat oleh keberadaan bibit siklon tropis 93S di Samudra Hindia selatan Jawa Barat, yang memengaruhi pola hujan dan meningkatkan tinggi gelombang di perairan sekitar Jawa Timur.






0 Komentar