Janji tiga juta rumah dari pemerintah agak tersendat. Baru tercapai 190 ribu unit. Sementara, pemuda Shiddiqiyyah lewat gotong royong bisa melahirkan puluhan rumah layak tanpa ribet birokrasi.
__________
Program tiga juta rumah andalan Presiden Prabowo Subianto masih jauh dari target. Hingga Agustus 2025, capaian baru 190.335 unit, atau sekitar 6 persen dari janji. Angka itu gabungan rumah terbangun dan akad (40.967 unit) serta KPR subsidi FLPP (149.368 unit).
Hambatan klasik terus menghantui: harga tanah tinggi, izin berlapis, hingga daya beli rendah. Wamen PKP Fahri Hamzah, sebagaimana dikutip dari RealEstat.id (25/8) mengakui “hambatan struktural terlalu tebal”. Ia mengusulkan lembaga off-taker khusus perumahan, sementara Menteri PKP Maruarar Sirait mendorong bank tanah, menghidupkan Perumnas, dan memperluas akses KUR.
Namun, mesin fiskal kementerian belum maksimal. Hingga pertengahan September, serapan anggaran baru 34,58 persen dari Rp 5,27 triliun.
Di luar jalur birokrasi, kisah berbeda datang dari Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) yang berpusat di Jombang. Lewat iuran dan gotong royong, mereka rutin membangun Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah (RSLHS). Tahun ini target awal 90 unit, tapi antusiasme warga membuat angka itu naik jadi 92 rumah gratis.
“Kami sedang menulis sejarah, bahwa kebersamaan dan gotong royong bisa melahirkan kemenangan nyata,” kata Mulyono dari DPP OPSHID FKYME (18/9).
Cerita OPSHID menunjukkan, masalah perumahan rakyat bukan hanya urusan pemerintah. Janji politik mungkin tersendat, tapi gotong royong bisa lebih cepat menghadirkan rumah layak bagi mereka yang membutuhkan.***






Subhanallah Alhamdulillah astaghfirullah
Semoga sukses dg ridho Allah