Ada banyak rumor yang beredar setelah acara pertemuan para pengurus NU pada acara Musyawarah Kerja Wilayah Nahdlatul Ulama (Muskerwil) NU Jawa Tengah di Pesantren Al-Musyaffa Sudipayung, Ngampel, Kabupaten Kendal, pada Ahad, 29 Oktober 2023.
Katanya, nuansa politik begitu kental. Bermula dari sesi tanya jawab, dimana salah seorang anggota pengurus NU mengajukan pertanyaan dan meminta pengarahan untuk menyambut Pemilu 2024.
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), semula tampak enggan menjawab, namun akhirnya juga memberikan pengarahan melalui separoh larik pantun berikut:
…Ampel dekat Kaliwungu
Orang-orang nempel ke NU.
Panen kates tumpakno jaran
Yen ono…
Tanpa melanjutkan larik berikutnya, audiens langsung paham maksud Gus Yahya. Sebab, rima pantun A-A-B-B tersebut membutuhkan akhiran A-N agar selaras dengan diksi “jaran”. Dengan metode tafsir teks yang jamak di masyarakat, maka larik berikutnya tiada lain adalah “Prabowo-Gibran”.
Namun, ada juga yang membantah. Pantun Gus Yahya memang membuka tafsir teks seluas-luasnya, dan selalu tidak final. Ada peluang yang luas untuk mengarahkan pemaknaan pantun tersebut ke topik lain—bukan Prabowo-Gibran—bahkan diperluas ke luar wacana politik praktis. Hemat penulis, semua perbedaan respon sah-sah saja.
Dalam ruang kebebasan tafsir, konteks memang kadang kala membantu mempersempit kemungkinan makna. Lebih-lebih pantun Gus Yahya sebagai jawaban terhadap permintaan para pengurus NU untuk menyambut Pemilu 2024. Dalam konteks ini, ada benarnya publik menafsirkan pantun Gus Yahya sangat spesifik, bernuansa politik praktis, dan dimaksud sebagai pengarahan pilihan dalam politik elektoral.
Tidak mengherankan kemudian banyak juga jama’ah nahdliyin yang semakin yakin bahwa Gus Yahya memobilisir suara pengurus NU untuk pasangan Prabowo-Gibran. Lalu, mereka berkeyakinan bahwa inkonsistensia PBNU sudah terang benderang. Dari yang semula mengusung spirit netralitas menjadi lebih tendensius.





