ISSC mendesak pemerintah menekan impor baja yang sudah tembus 1 juta ton hingga Oktober 2025.
Indonesia Society of Steel Construction (ISSC) meminta Kementerian Perdagangan turun tangan mengatasi derasnya impor baja konstruksi yang dinilai memukul ribuan pelaku usaha bengkel las nasional.
Ketua Umum ISSC Budi Harta Winata menyebut volume impor baja konstruksi telah menembus 1 juta ton hingga Oktober 2025, jauh meningkat dibanding 2020 yang hanya ratusan ton. Hal itu ia sampaikan dalam Rakernas Kadin 2025 di Jakarta, Senin (1/12/2025).
“Tahun ini, 2025 sampai bulan 10, ada masuk impor konstruksi baja. Saya ulangi sekali lagi, konstruksi baja. Ada 1 juta ton masuk gudang, pabrik, mal yang dulu adalah pekerjaan asosiasi kami, bengkel-bengkel las dalam negeri,” kata Budi.
Ia menegaskan baja yang masuk bukan bahan baku, melainkan produk jadi yang sebelumnya dikerjakan bengkel konstruksi lokal. Kondisi itu, menurutnya, membuat banyak pelaku usaha terpaksa mengurangi tenaga kerja atau menutup usaha.
“Dulu saya punya seribu karyawan, sekarang tinggal 70 orang. Anggota saya sudah banyak yang tutup, Pak,” ujarnya.
Budi menyatakan industri lokal mampu bersaing harga dengan produk asal Tiongkok jika spesifikasi dan pola pembayaran disamakan. Namun ia menilai ketidakpastian pembayaran dari konsumen dalam negeri membuat produsen lokal kalah cepat dibanding baja impor yang dijual dalam paket siap pasang.
“Harganya bukan lebih murah, saya bisa sama dengan harga Cina. Masalahnya kalau pesan dalam negeri bayarnya entah kapan-kapan,” katanya.





