Lewat usaha kecil produksi handle pintu kayu jati, OPSHID Pati membiayai pembangunan rumah syukur layak huni untuk Calista Sherly dan neneknya. Progres pembangunan hunian layah dan gratis itu sudah mencapai 50 persen dalam enam hari.
__________
Calista Sherly Anggelin, bocah berusia lima tahun yang akrab disapa Sherly, menjalani hidup jauh dari kata mudah. Sejak usia tiga bulan, ia ditinggal ibunya untuk selamanya, sementara ayahnya pergi tanpa pernah kembali. Hidup Sherly hanya bertumpu pada neneknya, Ibu Legi, seorang buruh tani.
Mereka sebelumnya tinggal di rumah sederhana dengan lantai tanah, dinding bata belum diplester, atap seng panas di siang hari, dan kamar tanpa jendela. Bantuan pemerintah sempat masuk, namun rumah itu tetap jauh dari layak.
Melihat kondisi ini, Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) Pati tergugah. Bertepatan dengan momentum Hari Sumpah Pemuda dan 97 tahun lagu kebangsaan Indonesia Raya, OPSHID memutuskan merenovasi rumah Sherly agar lebih layak huni.
Rumah mungil sekitar 45 meter persegi itu kini direnovasi: dinding diperbaiki, atap diganti, kamar ditambah jendela. Progres pembangunan berjalan cepat, sudah 50 persen rampung hanya dalam enam hari sejak dimulai pada 20 September 2025.

Ketua DPD OPSHID FKYME Pati, Legiyanto, menyebut pembangunan ini bagian dari program nasional Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah Fatchan Mubina, yang menargetkan 97 rumah dibangun serentak di 17 provinsi.





