Peneliti BRIN Amin Mudzakir menilai tudingan bahwa pesantren pro-kekerasan seksual lahir dari ketidaktahuan publik dan distorsi opini yang tak berdasar data.
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Amin Mudzakir menilai, narasi yang menggambarkan pesantren sebagai tempat subur kekerasan seksual merupakan bentuk keignoranan publik terhadap perubahan besar di dunia pesantren.
“Yang menganggap pesantren pro-kekerasan seksual itu ignoran kok kebangetan,” ujarnya, Senin (3/11). Ia menegaskan, pemikiran kesetaraan gender kini justru tumbuh kuat di pesantren, melahirkan tokoh seperti KH Husein Muhammad, Faqih Abdul Kodir, hingga Bu Nyai Tutik N Jannah dari Pati.
Pernyataan Menteri Agama Nasaruddin Umar tentang kasus kekerasan di pesantren yang “sedikit tapi dibesar-besarkan media” memicu reaksi keras dari influencer. Youtuber Guru Gembul dan Pandji Pragiwaksono menuduh Menag menutupi kasus, dengan mengutip data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) yang menyebut 130 laporan kekerasan di pesantren dalam enam bulan pertama 2025.
Namun, data JPPI secara nasional justru menunjukkan sekolah umum sebagai lokasi paling banyak kasus kekerasan, yakni 60 persen, disusul luar sekolah 27 persen, dan pesantren hanya 15 persen.
Koordinator JPPI Ubaid Matraji pernah menegaskan, kekerasan tetap perlu diwaspadai, namun tidak dominan di pesantren. Riset Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta bahkan menemukan hanya 1,06 persen dari 43 ribu pesantren yang tergolong rentan terhadap kekerasan seksual.





