PT Pertamina (Persero) berencana meluncurkan bahan bakar nabati bioetanol dengan merek Pertamax Green 95. Menurut rencana, bahan bakar ini bakal diujicobakan di Surabaya dan Jakarta pada pertengahan Juli 2023. Rencana ini sempat molor beberapa kali. Lalu, apakah Pertamax Green 95 ini? Kenapa dia diproduksi? Berikut fakta-faktanya:
Mengandung Bioetanol
Pertamax Green 95 terdiri dari campuran Pertamax dengan lima persen bioetanol yang berasal dari molases atau tetes tebu, sehingga menghasilkan BBM dengan RON 95.
Menurut rencana, produksi Pertamax jenis ini dimulai dari bioetanol 5 persen (E5), lalu ditingkatkan menjadi E10, E20, dan seterusnya. Program Bioetanol Tebu untuk Ketahanan Energi diproyeksikan dapat meningkatkan jumlah produksi bioetanol nasional dari 40 ribu kiloliter pada 2022 menjadi 1,2 juta kiloliter pada 2030.
Bioetanol juga diharapkan menjadi campuran untuk BBM jenis bensin. Sebuah studi dari Brazil menemukan, 1 ton tebu setara dengan 1,2 barel crude oil.
“Kalau tebu ini berhasil, kemudian B30 sawit itu bisa ditingkatkan lagi, ini akan memperkuat ketahanan energi negara kita, Indonesia,” kata Presiden Joko Widodo atau Jokowi ketika meresmikan pabrik etanol PT Enaro di Mojokerto, Jawa Timur, 4 November 2022.
Uji coba pertama akan dilakukan di Jawa Timur
Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga Irto Ginting menyebut, uji coba pasar Bioetanol akan dilakukan di beberapa SPBU Surabaya, Mojokerto, dan Malang. Setelah selesai di Jawa Timur, produk ini akan digulirkan di Jakarta.
“Harganya tentu kompetitif sesuai dengan BBM sekelasnya di RON 95,” jelas Irto Ginting dalam keterangan tertulis Kamis, 22 Juni 2023.
Jawa Timur dipilih sebagai lokasi uji coba Bioetanol karena terdapat produsen bioetanol di daerah ini. Dua di antaranya adalah PT Enero Mojokerto dan PT Molindo Malang. Sebagai pabrik baru, kedua produsen ini hanya dapat memasok sekitar 5,7 persen dari kebutuhan Jawa Timur dan Jakarta.
Kendati demikian, pabrik-pabrik tersebut didorong untuk dapat memenuhi kebutuhan bioetanol fuel grade di Indonesia. Menurut data Kementerian ESDM, kapasitas produksi bioetanol fuel grade baru mencapai 40.000 KL per tahun, sedangkan Pertamina membutuhkan 696.000 kiloliter untuk implementasi bioetanol pada tahap awal di Jawa Timur dan Jakarta.





