Gerakan zakat ASN Surabaya tembus Rp4 miliar per bulan, jadi model pengentasan kemiskinan yang efektif dan cepat.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, dinobatkan sebagai Kepala Daerah Pengumpul Zakat Terbanyak oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Jawa Timur. Penghargaan ini menjadi bukti pengakuan terhadap semangat gotong royong dan profesionalisme pengelolaan zakat yang dijalankan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.
Kepala Bagian Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Bapemkesra) Kota Surabaya, Arief Boediarto, menyebut penghargaan itu merupakan hasil kerja kolektif antara birokrasi dan masyarakat.
“Penghargaan dari Baznas Jatim ini adalah cerminan konsistensi Pak Wali Kota dalam mendorong seluruh elemen, khususnya ASN Pemkot, untuk menunaikan kewajiban zakatnya melalui Baznas,” ujar Arief, Rabu (15/10).
Menurutnya, gerakan zakat ASN di Surabaya kini mampu menghimpun dana Rp3 hingga Rp4 miliar per bulan, menjadikan Baznas Surabaya sebagai salah satu pengumpul zakat terbesar secara nasional. Dana itu mayoritas berasal dari potongan 2,5 persen penghasilan ASN Pemkot yang dilakukan rutin setiap bulan.
“Kewajiban zakat kolektif ini diyakini Pak Wali Kota menjadi kunci penyelesaian masalah sosial tanpa sepenuhnya bergantung pada APBD,” tambah Arief.
Ia menjelaskan, keunggulan sistem zakat Surabaya terletak pada sinkronisasi data antara Pemkot dan Baznas, yang memastikan penyaluran tepat sasaran, terutama kepada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Dana zakat difokuskan untuk pengentasan kemiskinan dan stunting, melalui bantuan bagi fakir miskin, perbaikan rumah tidak layak huni, serta program gizi anak.





