Di atas kertas, ekonomi digital Indonesia diproyeksikan menembus USD99 miliar pada 2025. Namun, di lapangan, sinyal masih putus-putus, investasi startup menyusut, dan jutaan pekerja gig menggantungkan hidup pada platform yang tak mereka kuasai.
Laporan e-Conomy SEA 2025 yang dirilis Google, Temasek, dan Bain & Company pada 13 November 2025, mengafirmasi satu fakta: Indonesia tetap menjadi raksasa digital Asia Tenggara.
Nilai ekonomi digital atau gross merchandise value (GMV) diperkirakan bakal mencapai USD99 miliar tahun ini—sekitar Rp 1.656 triliun—menjadikan Indonesia pasar terbesar di kawasan untuk e-commerce, transportasi daring, pesan-antar makanan, perjalanan, media online, hingga layanan keuangan digital.
Namun, di luar ruang rapat dan slide presentasi, pertanyaan yang mengemuka adalah: siapa yang sesungguhnya menikmati ekonomi digital bernilai USD99 miliar itu?

Angka Besar di Atas Kertas, Bagaimana Realitas di Lapangan?
Google menggambarkan pertumbuhan Indonesia dengan nada optimistis. “Kami melihat pertumbuhan dua digit yang berkelanjutan di berbagai sektor digital utama, membuktikan bahwa momentum Indonesia merata di seluruh ekosistem,” ujar Veronica Utami, Country Director Google Indonesia, lewat pernyataan resmi di blog Google Indonesia, 13 November 2025.

Data lintas laporan e-Conomy SEA menunjukkan jalur pertumbuhan yang mengesankan: dari sekitar USD44 miliar pada 2020, naik menjadi USD70 miliar (2021), USD77 miliar (2022), hampir USD90 miliar (2024), dan kini mendekati USD99 miliar pada 2025.






0 Komentar