BNPB menyebut data korban terus berubah seiring pencarian di wilayah terisolasi.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperbarui data korban banjir dan longsor di Sumatera menjadi 441 orang meninggal per 1 Desember 2025. Angka ini melonjak tajam dari laporan sebelumnya yang menyebut 303 korban jiwa.
Kepala BNPB, Suharyanto, pada Ahad (30/11/2025) menegaskan bahwa data masih bersifat dinamis karena banyak daerah belum sepenuhnya terjangkau tim pencarian.
Menurut BNPB, perubahan drastis itu terjadi setelah tim gabungan berhasil masuk ke sejumlah desa yang sebelumnya terisolasi. Banyak korban yang semula dilaporkan hilang ditemukan meninggal. Kondisi ini membuat selisih data dalam 24–48 jam terakhir meningkat signifikan.
Sebaran Korban di Tiga Provinsi
Sumatera Utara menjadi provinsi dengan korban terbanyak. Laporan terbaru mencatat 217 orang meninggal dan 209 orang hilang, sebagian besar berasal dari desa-desa di dataran tinggi dan lereng bukit.
Di Aceh, jumlah korban meninggal mencapai 96 orang, meski otoritas setempat sebelumnya menepis isu beredar bahwa ada 400 korban jiwa dalam satu provinsi.
Di Sumatera Barat, korban meninggal mencapai 129 jiwa, termasuk 74 orang dari Kabupaten Agam. Puluhan warga lainnya masih hilang dan diperkirakan terseret arus banjir bandang.
Medan Sulit dan Lambatnya Verifikasi
BNPB menyebut ambiguitas data terjadi karena verifikasi lapangan terhambat kerusakan infrastruktur. Banyak jembatan ambruk dan jalan terputus, membuat tim SAR hanya bisa masuk menggunakan perahu atau helikopter.
Situasi ini membuat pendataan korban bergerak cepat dalam waktu singkat. “Angka bisa berubah karena banyak wilayah baru dapat dijangkau,” ujar Suharyanto dalam laporan resmi BNPB, Senin (1/12/2025).





