Bubur Suro, Hidangan Khas Malam 10 Muharram

Salah satu hidangan yang identik dengan Tahun Baru Islam adalah bubur suro. Masyarakat Jawa khususnya, menghadirkan makanan yang kadang juga disebut suran ini pada malam menjelang 10 Suro.

Sepuluh Suro adalah hari kesepuluh bulan Sura atau Suro dalam kalender Jawa. Sepuluh Suro ini bertepatan pula dengan tanggal 10 Muharram dalam kalender Hijriyah atau Bulan Muharram Islam.

Dalam konsep Jawa, hari esok dianggap datang setelah lewat pukul empat petang. Maka dari itu, bubur suro disajikan pada malam menjelang datangnya 10 Suro.

Tanggal 10 suro diperingati oleh masyarakat Jawa dengan cara yang khas dan telah dilaksanakan secara turun temurun selama berabad-abad. Salah satunya lewat elemen kuliner yang khas sebagai lambang perayaan tersebut: bubur suro. Bubur ini menjadi lambang untuk perayaan 10 Suro dan karenanya harus dibaca, dilihat, dan ditafsirkan sebagai alat—atau ‘uba rampe’ dalam bahasa Jawa—untuk memaknai 10 Suro.

Bacaan Lainnya

Bubur suro punya rasa gurih dengan nuansa pedas yang tipis. Biasanya dibuat dari beras, santan, garam, jahe, dan sereh. Selain itu, bubur suro juga biasa disajikan dengan lauk berupa opor ayam dan sambal goreng labu siam berkuah encer dan pedas. Di atas bubur ditaburi serpihan jeruk bali dan bulir-bulir buah delima.

Ada tujuh jenis kacang dalam bubur ini, yakni: kacang tanah, kacang mede, kacang hijau, kedelai, kacang merah, kacang tolo, dan kacang bogor. Sebagian kacang ada yang digoreng, ada yang direbus.

Ada pula tambahan berupa irisan timun dan beberapa lembar daun kemangi. Bubur suro juga disajikan dengan uba rampe lainnya berbentuk sirih lengkap, kembar mayang, dan sekeranjang buah-buahan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *