BNPT menilai anak Indonesia makin cepat terpapar radikalisme lewat media sosial dan gim daring.
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkap anak-anak Indonesia semakin rentan terpapar paham radikalisme dan terorisme di era media sosial. Prosesnya dinilai jauh lebih singkat dibandingkan metode konvensional.
Kepala BNPT, Eddy Hartono, menyebut radikalisasi kini hanya membutuhkan waktu tiga hingga enam bulan melalui ruang digital. Pernyataan itu disampaikan dalam Pernyataan Pers Akhir Tahun dan Perkembangan Tren Terorisme Indonesia 2025, Selasa (30/12/2025).
“Kalau kita ketahui bersama bahwa proses radikalisasi terhadap anak dan remaja ini dibandingkan dengan sebelum menggunakan media sosial, ini lebih efektif,” ujar Eddy.

Algoritma dan Digital Grooming
Eddy menjelaskan, pada masa sebelum media sosial, radikalisasi konvensional memerlukan waktu dua hingga lima tahun. Kini, algoritma platform digital mempercepat proses tersebut melalui paparan konten berulang.
Interaksi sederhana seperti like, share, dan durasi menonton membuat algoritma terus menyajikan konten ekstrem serupa. Dalam istilah psikologi, pola ini disebut digital grooming.
“Ketika sudah dapat grooming-nya, baru ditarik masuk ke grup tertutup seperti WhatsApp atau Instagram. Di situlah normalisasi perilaku dimainkan,” kata Eddy.





