Selama kita terus memandang diri lewat kacamata Barat, kita akan tetap menjadi tokoh figuran dalam sejarah yang ditulis orang lain.
Sejak zaman kolonial hingga era digital, dunia Timur — termasuk Indonesia — terus dipandang lewat lensa Barat. Dalam pandangan itu, kita sering digambarkan eksotis tapi terbelakang, spiritual tapi irasional. Edward Said menyebut cara berpikir seperti ini sebagai Orientalisme: pandangan yang menempatkan Timur sebagai “yang lain” dan menjadikan Barat sebagai pusat segalanya.
Dulu, orientalisme hadir lewat lukisan dan laporan para penjelajah. Kini, ia hidup dalam film, berita, dan algoritma. Dunia Islam ditampilkan sebagai wilayah konflik, Asia hanya disebut saat ada bencana, dan sejarah dunia tetap dimulai dari Yunani lalu berakhir di Eropa. Padahal, peradaban sains dan logika pernah berkembang di Baghdad, Bukhara, Taxila, hingga Jawa jauh sebelum Renaisans.
Penjajahan hari ini tak lagi lewat senjata, tapi lewat wacana. Ketika istilah “negara dunia ketiga” digunakan seolah-olah kita tak punya logika modern, di situlah orientalisme bekerja halus. Ia membuat kita malu pada akar sendiri dan bangga bila disebut “seperti Barat”.
Sudah saatnya kita menulis ulang kisah kita sendiri — sejarah, ilmu, dan peradaban — dari sudut pandang Nusantara. Karena bangsa yang lupa menulis dirinya akan terus hidup dalam narasi orang lain.
Selengkapnya di sini.





