Beda Penentuan Awal Ramadan Bikin Dua Sunan Berseteru, Namun Negara Tetap Bersatu

Ilustrasi Masjid Demak di zaman kerajaan. Di masjid ini Majelis Wali Songo bermusyarwarah untuk memutuskan berbagai hal terkait kepentingan masyarakat, termasuk menentukan awal Ramadhan. (Dok. Wikicommon)
Perbedaan cara penentuan awal Ramadan di Indonesia—negara yang pada masa lalu direpresentasikan oleh beberapa kerajaan di Nusantara—tak hanya terjadi di masa kini. Silang pendapat yang muncul karena ada dua metode yang berbeda ini sudah terjadi sejak zaman Kerajaan Demak. Bahkan, perbedaan pendapat sempat membuat dua wali, Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga, berseteru.

Perhitungan awal Ramadan waktu itu juga memakai dua metode, hisab dan rukyatul hilal. Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga, dua anggota Majelis Wali Songo, punya alasan berbeda dalam memilih salah satu dari kedua metode itu.

Dilansir dari Sejarah Cirebon, yang mengutip buku berjudul Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa karya H.J. de Graaf, perselisihan terjadi pada abad ke-16, kala para ulama dan Raja Demak mengadakan musyawarah jelang Ramadan.

Waktu itu Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga memakai perhitungan yang berbeda. Sayangnya buku tersebut tidak mengungkap detail perbedaan metode perhitungan yang dimaksud—siapa menggunakan metode hisab, siapa rukyat.

Buku itu hanya mencatat bahwa Sultan Trenggono—yang kala itu Raja Demak—lebih memilih metode Sunan Kalijaga.

Bacaan Lainnya

Ternyata keputusan Sultan Trenggono—sebagai representasi pemerintah—berbuntut panjang. Sunan Kudus disebut tersinggung hingga memilih hengkang dari Demak dan mendirikan Kota Kudus pada 1549.

Padahal, ketika itu status Sunan Kudus masih Imam Masjid Agung Demak. Karena jabatan tersebut kosong setelah Sunan Kudus pergi, Sunan Kalijaga pun mengisinya, dan dia diberi tanah perdikan oleh Kerajaan Demak di Kadilangu.

Puncak Perselisihan Menahun

Ketika diusut lagi jauh ke belakang, perselisihan antara Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga punya riwayat panjang. Bukan hanya terjadi waktu penentuan Ramadan itu saja. Momen tersebut sepertinya merupakan puncak dari perselisihan panjang tersebut.

De Graf mencatat jika perselisihan keduanya bermula ketika dua murid Sunan Kudus memilih pindah haluan dengan berguru kepada Sunan Kalijaga.

Sunan Kudus awalnya punya tiga murid dari Kerajaan Demak, yaitu Jaka Tingkir, Sunan Prawata, dan Arya Penangsang. Di tengah proses belajar kepada Sunan Kudus, Sunan Prawata dan Jaka Tingkir memilih pindah haluan dan berguru ke Sunan Kalijaga.

Menurut catatan de Graf, Sunan Kudus merasa wibawanya tercoreng akibat pilihan kedua muridnya tersebut.

Faktor lain yang membikin Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga tidak begitu akur adalah perbedaan pandangan politik. Sunan Kalijaga dikenal selalu di pihak Sultan Trenggono dan keluarganya—atau pihak pemerintah—sementara Sunan Kudus sering mengambil posisi sebagai oposisi Sang Raja.

Sultan Trenggono, sebagaimana dicatat de Graf, menjadi raja usai memenangi perebutan tahta dengan saudara tirinya, Raden Kikin. Perpindahan kekuasaan dengan cara kekerasan ini ternyata tidak disukai oleh Sunan Kudus.

Namun demikian, perbedaan pandangan antara Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga itu tidak sampai menimbulkan perpecahan dalam negeri Demak ketika itu.

Barangkali kesadaran tetap bersatu dalam sebuah negara kendati berbeda pandangan inilah yang menjadi semangat kerukunan dua organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam terbesar di Tanah Air, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Biar kerap berbeda dalam penentuan awal Ramadan, yang penting akur.◼︎

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *